InfoSAWIT, KOTAWARINGIN BARAT — Perkebunan kelapa sawit kini tak lagi semata menjadi mesin penggerak ekonomi berbasis ekspor, tetapi juga menjelma sebagai fondasi pembangunan di daerah terpencil. Melalui tangan-tangan petani swadaya, sawit berkembang bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tapi juga sebagai alat transformasi sosial dan penopang ketahanan pangan nasional.
Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) mencatat bahwa para petani sawit swadaya, meski dengan segala keterbatasan, telah mulai mempraktikkan model perkebunan regeneratif yang berpadu dengan pola-pola produksi pangan. Di berbagai wilayah, inisiatif seperti tumpang sari, peternakan, perikanan, hingga pengolahan limbah organik telah menjadi bukti nyata bahwa perkebunan sawit bisa turut menjawab tantangan ketersediaan pangan lokal.
Salah satu contoh sukses datang dari KUD Tani Subur di Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Di tengah proses peremajaan sawit (replanting), koperasi ini memanfaatkan lahan kosong dengan menanam jagung. Hasilnya, jagung tumpang sari di lahan sawit ini mampu menghasilkan hingga 250 ton per tahun. Tak berhenti di situ, koperasi juga mengelola peternakan ayam pedaging dan perikanan, serta sebelumnya sempat mengembangkan peternakan sapi.
Seluruh hasil produksi, baik daging ayam maupun ikan, tidak hanya dipasarkan ke warga sekitar, tetapi juga ke pembeli lokal. Sisa kotoran ternak kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk kebun sawit, menciptakan siklus usaha tani yang efisien dan ramah lingkungan. KUD Tani Subur bahkan telah menghasilkan sekitar 140 ton ayam potong, sementara kolam ikan mereka menjadi wahana pemancingan bagi warga sekitar, menghadirkan manfaat tambahan berupa rekreasi dan pendapatan.
Inisiatif serupa juga dijalankan oleh BUMDes Karya Mandala, yang mendorong petani sawit bersertifikat untuk mengembangkan ternak sapi, terutama karena tingginya permintaan menjelang Idul Adha. Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan daging sapi di pasar lokal, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan pangan masyarakat desa.
“Petani sawit swadaya bukan hanya penghasil TBS. Mereka juga agen pembangunan, penjaga ketersediaan pangan, dan penopang ekonomi keluarga,” ujar perwakilan FORTASBI dilansir InfoSAWIT dari laman resmi FORTASBI, Rabu (25/6/2025).
BACA JUGA: Satgas PKH Bergerak, Tegaskan Penataan Sawit di Kawasan Hutan Harus Segera Dilakukan
Pihak FORTASBI menilai, pengembangan perkebunan sawit yang terintegrasi dengan produksi pangan menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional. Saat produktivitas sawit meningkat, pasokan minyak goreng, sebagai kebutuhan pokok jutaan rumah tangga Indonesia, juga lebih terjamin, baik dari sisi ketersediaan maupun keterjangkauan harga.
Tak hanya itu, pendapatan dari sawit telah membuka peluang bagi petani untuk diversifikasi usaha, seperti mendirikan warung sembako, berkebun sayur, atau beternak kecil-kecilan. Dampaknya terasa nyata di tingkat komunitas, seperti munculnya toko-toko bahan pokok yang dikelola petani sawit swadaya, yang melayani kebutuhan warga dan memperkuat ekonomi lokal di sekitar kawasan perkebunan.
Model regeneratif yang dijalankan petani juga selaras dengan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Banyak petani peserta PSR memanfaatkan masa tunggu produksi sawit dengan menanam jagung atau padi gogo, menambah pendapatan sekaligus mendukung ketahanan pangan di daerahnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 25 Juni-1 Juli 2025 Turun Tipis Cenderung Stagnan
Kisah-kisah ini menjadi bukti bahwa petani sawit swadaya, terutama yang sudah tersertifikasi, tak hanya menjaga keberlanjutan produksi TBS, tetapi juga menjelma menjadi garda depan dalam menopang ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim, tantangan ekonomi, dan fluktuasi pasar global. (T2)
