Dalam sambutannya, Dr. La Ode menekankan bahwa posisi petani dan kelembagaan tani sangat penting dalam pembangunan industri sawit Indonesia.
“Petani dan kelompok tani bukan hanya pelaku lapangan, tapi aktor strategis dalam rantai nilai industri sawit. Kelembagaan petani harus diperkuat agar bisa mengakses program dan dukungan pemerintah secara berkelanjutan,” ujarnya.
SPKS Dorong SDM Sawit yang Unggul
Senada dengan itu, Ketua SPKS Indonesia Sabarudin menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir, industri sawit telah menjadi tulang punggung ekonomi di banyak wilayah.
“Kita perlu terus mendorong peningkatan produktivitas, optimalisasi lahan, dan peningkatan kualitas SDM petani sawit. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, semoga membawa manfaat nyata bagi petani dan masa depan sawit Indonesia,” tuturnya.
Selain program asuransi, HIPMI dan SPKS juga meluncurkan program peningkatan kapasitas pembenihan sawit skala UMKM dan koperasi. Program ini bertujuan memperluas akses petani terhadap bibit sawit unggul dan berkualitas di Sulawesi Tenggara.
Langkah-langkah ini mempertegas posisi HIPMI sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit secara inklusif, produktif, dan berkelanjutan. (T2)
