InfoSAWIT, JAKARTA – Tidak pernah terlintas dalam rencana awal kariernya, namun bagi Alwi Hafiz, kesempatan memimpin tim kemitraan di Sinar Mas Agribusiness and Food justru menjadi titik balik penting. “Saat diberi kesempatan, saya kaget – tapi dalam arti positif. Ini menjadi salah satu bab paling berarti dalam perjalanan saya,” ujarnya.
Mengelola kemitraan keberlanjutan di perusahaan agribisnis global kerap dianggap sebatas urusan dokumen, perjanjian, atau laporan. Namun bagi Alwi, peran ini jauh lebih personal: tentang membangun kepercayaan, menemukan titik temu, dan mengubah visi bersama menjadi dampak nyata bagi manusia maupun lingkungan.
Dari pemulihan lahan gambut bersama PepsiCo dan Nestlé, hingga mendukung kesejahteraan petani serta fasilitas pengasuhan anak di pedesaan, Alwi menegaskan bahwa kemitraan bukan sekadar bisnis. “Ini soal bagaimana menyelaraskan misi, bukan hanya mengejar KPI. Dampaknya harus bisa dirasakan langsung di lapangan,” katanya dilansir InfoSAWIT dari Sinar Mas, Kamis (28/8/2025).
BACA JUGA: Jangan Biarkan Petani Sawit Tersingkir dari Agenda Keberlanjutan
Kolaborasi untuk Dampak Bersama
Di balik setiap proyek, Sinar Mas Agribusiness and Food menerapkan kerangka Collective for Impact – pendekatan yang menekankan pentingnya kolaborasi dengan mitra yang tidak hanya membawa dukungan finansial, tetapi juga perspektif dan ide baru.
“Kemitraan terbaik lahir ketika kedua pihak peduli terhadap hasil yang sama,” jelas Alwi. Ia mencontohkan, salah satu mitra mendorong agar perusahaan menambahkan indikator partisipasi perempuan dalam sebuah program. Awalnya tak masuk agenda, namun kini menjadi tolok ukur penting keberhasilan.
Dari Gambut hingga Perkebunan Sawit
Sejumlah program kemitraan kini menjadi bukti nyata di lapangan. Di Kalimantan Barat, perusahaan bersama Nestlé melanjutkan proyek pemulihan lahan gambut seluas 2.600 hektare, yang awalnya dimulai dengan L’Oréal. Upaya ini menggabungkan pemulihan ekologi, tata kelola air berkelanjutan, hingga diversifikasi mata pencaharian masyarakat.
BACA JUGA: Kolaborasi SPKS, PalmCo, dan BPDP Dorong Percepatan PSR Petani Sawit Swadaya di Jambi
Di Sumatera Utara, program Sawit Terampil bersama IDH telah melatih lebih dari 3.000 petani sawit mandiri dan memetakan lahan lebih dari 3.000 hektare. Lebih dari 500 petani kini berada di jalur menuju sertifikasi RSPO dan ISPO, dengan dukungan berbagai mitra global seperti Mars, Mondelez, Fuji Oil, hingga Neste.
Sementara di Riau, inisiatif Balai Penitipan Anak (BPA) yang didukung ADM Cares dan Tzu Chi membantu memperbaiki fasilitas pengasuhan anak, melatih pengasuh, serta mendorong peran aktif Dharma Wanita dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Hingga kini, hampir 20 program kemitraan telah dijalankan – sebagian selesai, sebagian lain masih berlanjut. Alwi menyebut keberhasilan bukan hanya soal dana, melainkan juga ide, visi bersama, dan kepercayaan. “Banyak mitra kembali terlibat karena satu alasan sederhana: kami menepati janji,” ujarnya.
BACA JUGA: Konflik Lahan dan Jual Beli Kapling Plasma, Jadi Persoalan Lain di Kebun Sawit
Kunjungan lapangan rutin menjadi sarana memperkuat hubungan dan menunjukkan dampak langsung bagi masyarakat. Kemitraan yang dijalankan pun bersifat kolaboratif, bukan transaksional. “Kami mendengarkan, beradaptasi, dan tumbuh bersama. Itu sebabnya mitra terus memilih melangkah lebih jauh bersama kami,” tutup Alwi. (T2)
