InfoSAWIT, JAKARTA — Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Fadhil Hasan, menilai bahwa konsistensi regulasi dalam perdagangan minyak sawit sangat penting, tidak hanya bagi Indonesia sebagai eksportir, tetapi juga bagi India sebagai konsumen utama.
“Kalau regulasi diterapkan secara tidak konsisten, dampaknya bisa terasa langsung pada inflasi di India. Sebaliknya, jika konsisten, manfaatnya akan dirasakan kedua belah pihak,” ujar Fadhil, dalam sebuah diskusi online dihadiri InfoSAWIT, Senin (22/9/2025). Ia juga menekankan perlunya dialog intensif antara Indonesia dan India untuk menyelaraskan kebijakan perdagangan sawit.
Lebih jauh, Fadhil mengungkapkan bahwa kebutuhan sawit saat ini tidak hanya untuk pangan, tetapi juga energi, khususnya biodiesel. Menurutnya, tantangan utama bukan pada pemilihan antara food atau fuel, melainkan bagaimana meningkatkan kapasitas produksi sawit nasional.
BACA JUGA: Kemendag: Pungutan Ekspor Sawit untuk Dorong Produk Bernilai Tambah
“Solusinya ada di peningkatan produktivitas. Program peremajaan sawit rakyat, rehabilitasi kebun tidak produktif, hingga pemupukan yang lebih tepat bisa menjadi kunci,” jelasnya.
Fadhil optimistis, dengan strategi tersebut, Indonesia mampu memenuhi permintaan ganda baik untuk kebutuhan pangan maupun energi. “Kita jangan melihatnya sebagai persoalan, tapi sebagai peluang untuk memperkuat industri sawit nasional,” pungkasnya. (T2)
