InfoSAWIT, MEDAN – Tim peneliti Universitas Sumatera Utara (USU) menemukan cara baru untuk memproduksi biodiesel sawit berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah daun Indigofera zollingeriana sebagai katalis berbasis kalsium oksida (CaO). Temuan ini tidak hanya menawarkan alternatif energi bersih, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular di Indonesia.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Results in Engineering edisi 2025 itu ditulis oleh Taslim, Silvia Nova, Renita Manurung, Iriany, Vikram Alexander, dan Anggara Dwita Burmana. Artikel berjudul Sustainable production of CaO rich-indigofera (Indigofera zollingeriana) as heterogeneous catalyst of biodiesel from refined bleached deodorized palm olein using associated transesterification process ini menyoroti upaya mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar memiliki potensi besar dalam pengembangan biodiesel. Namun, selama ini produksi biodiesel masih mengandalkan katalis homogen berbasis kimia yang sulit dipisahkan dari hasil akhir dan menghasilkan limbah cair. Melalui penelitian ini, tim USU menawarkan solusi menggunakan katalis heterogen dari abu daun indigofera yang dikalsinasi pada suhu tinggi hingga menghasilkan CaO.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 24-30 September 2025 Masih Turun Tipis, Cenderung Stagnan
“Pendekatan ini menyentuh dua isu sekaligus: energi dan keberlanjutan. Kami tidak hanya bicara soal biodiesel, tetapi juga bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal yang murah, melimpah, dan ramah lingkungan,” ujar Taslim, salah satu peneliti utama, dilansir InfoSAWIT dari Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (24/9/2025).
Uji laboratorium menunjukkan katalis indigofera efektif mengubah refined bleached deodorized palm olein (RBDPO) menjadi biodiesel berkualitas sesuai standar internasional. Katalis ini juga dapat digunakan berulang kali tanpa penurunan kinerja yang signifikan, sekaligus menghasilkan limbah yang jauh lebih sedikit dibanding katalis konvensional.
Menariknya, indigofera dikenal sebagai tanaman cepat tumbuh, tidak bersaing dengan tanaman pangan, dan umumnya digunakan sebagai pakan ternak. Pemanfaatan limbah daunnya menambah nilai ekonomi baru tanpa mengganggu rantai pasok. Jika dikembangkan lebih lanjut, produksi katalis dari tanaman ini berpotensi melibatkan masyarakat pedesaan dalam pengumpulan, pengeringan, hingga pengolahan daun, sehingga menciptakan peluang kerja baru.
BACA JUGA: Saatnya Membumikan Keadilan Gender di Sektor Sawit
Meski hasilnya menjanjikan, tim peneliti mengakui masih ada tantangan, seperti kebutuhan energi tinggi pada proses kalsinasi dan uji jangka panjang untuk ketahanan katalis di skala industri. Namun, mereka optimistis riset ini dapat menjadi pijakan penting bagi pengembangan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
“Biodiesel sering disebut sebagai energi masa depan. Tetapi agar benar-benar berkelanjutan, proses produksinya pun harus ramah lingkungan. Itu yang kami coba buktikan dengan indigofera,” kata Taslim.
Penelitian ini menegaskan bahwa inovasi energi bersih dapat lahir dari sumber daya sederhana yang sering terabaikan. Dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai katalis, Indonesia bukan hanya pengguna, tetapi juga bisa menjadi produsen pengetahuan dan teknologi dalam transisi energi global. (T2)
