InfoSAWIT, BOGOR – Siti Amanah, akademisi dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University, menyampaikan refleksi tajam mengenai realitas kehidupan perempuan pekerja sawit. Ia menekankan bahwa persoalan yang dihadapi bukan semata urusan ekonomi, tetapi menyangkut struktur sosial yang masih timpang dan sistem yang belum inklusif terhadap kebutuhan perempuan.
“Kita belum move on dari struktur lama,” tegas Siti. Diskriminasi, subordinasi, beban ganda, marginalisasi, hingga absennya ruang bersuara menjadi benang merah dari masalah yang dialami perempuan di sektor ini. Meskipun kontribusi ekonomi mereka sangat signifikan dalam rumah tangga, hal ini belum diakui secara seimbang, apalagi tercermin dalam kebijakan yang adil gender.
Siti menggarisbawahi bahwa masih minimnya fasilitas dasar yang layak, baik di perkantoran maupun di lapangan, merupakan bukti bahwa aspek kualitas hidup pekerja—terutama perempuan—belum menjadi prioritas. Ia juga menyoroti ketimpangan upah serta kurangnya perlindungan hak-hak perempuan sebagai refleksi nyata dari sistem yang gagal menjawab kebutuhan riil di lapangan.
BACA JUGA: Indonesia Perkuat Strategi Sawit Berkelanjutan di Forum Green Policy China
Ia juga mencermati bagaimana program-program yang bertujuan memberdayakan perempuan seringkali berjalan sendiri-sendiri, tanpa konektivitas antar-lembaga. “Perlu ada duduk bersama antara dinas pemberdayaan perempuan, perusahaan, dan sektor pendidikan tinggi,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya forum terbuka untuk mengintegrasikan kebijakan, program, dan kegiatan secara lintas sektoral.
Salah satu usulan konkret yang mencuat adalah mendorong diversifikasi komoditas di perkebunan sawit. Dengan tidak hanya menanam sawit, tetapi juga menyisipkan tanaman pangan atau ternak, maka gizi keluarga pekerja dapat ditingkatkan secara mandiri. Siti menyebut beberapa data yang menunjukkan bahwa pendekatan ini telah mulai diterapkan di beberapa wilayah, seperti di Sumatera dan Kalimantan.
BACA JUGA: Perempuan di Sawit Kerap Hadapi Ketidakadilan Gender, Dianggap Tidak Ada
Lebih jauh, ia menekankan bahwa investasi terhadap manusia—human capital—merupakan fondasi menuju kesejahteraan sejati. Tidak cukup hanya memberikan upah, pekerja perempuan juga membutuhkan ruang untuk berorganisasi, bersuara, dan mendapatkan pelatihan keterampilan serta informasi yang memberdayakan. (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Juli 2025
