Tak berhenti di situ, REA juga mendampingi 103 petani dari dua koperasi untuk siap menjalani sertifikasi RSPO, mencakup area 279,6 hektare, serta membantu 256 petani mempersiapkan kepatuhan terhadap regulasi EUDR (EU Deforestation Regulation) — dengan total luas lahan mencapai 1.016,94 hektare.
Bupati Aulia Rahman Basri menegaskan pentingnya langkah ini. “STDB dan SPPL bukan hanya dokumen administratif. Ini adalah tiket bagi petani Kutai Kartanegara untuk masuk ke pasar global yang menuntut legalitas dan keberlanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Erwinsyah K, salah satu petani peserta SHINES, mengaku kini lebih tenang dalam menjalankan usahanya. “Dulu kami khawatir apakah lahan kami diakui dan hasil kami diterima. Sekarang kami punya dokumen, ada pengakuan, dan yang paling penting, ada kepastian masa depan,” tuturnya dengan senyum lega.
Dari Desa untuk Dunia
Kepala Desa Kembang Janggut, Ardiansyah, memandang program ini sebagai kesempatan besar bagi warganya. “Di desa kami, sawit bukan sekadar tanaman, tapi sumber kehidupan. Dengan dukungan SHINES dan SPACE, petani belajar mengelola lahan secara bertanggung jawab, memperkuat koperasi, dan bangga karena sawit dari desa kami kini memenuhi standar internasional,” katanya.
Program SPACE dan SHINES menjadi wujud konkret pilar Empowering Livelihoods dalam strategi keberlanjutan REA, yang juga mencakup Sustainable Development, Climate Action, dan Forest Conservation. Empat pilar ini menjadi arah utama perusahaan dalam membangun industri sawit yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tapi juga pada manusia dan lingkungan.
“SPACE dan SHINES saling melengkapi,” ungkap Dr. Bremen Yong, Group Chief Sustainability Officer REA. “Yang satu membantu petani tumbuh secara ekonomi, yang lain memastikan mereka tumbuh secara legal dan berkelanjutan. Bersama-sama, keduanya memberikan stabilitas jangka panjang bagi petani dan komunitas.”
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 10 – 16 Oktober 2025 Turun Tipis, Cenderung Stagnan
Dari Kembang Janggut, semangat kolaborasi itu tumbuh — seperti bibit sawit yang dirawat dengan hati-hati. REA, bersama para petani, koperasi, dan pemerintah daerah, menanam harapan baru tentang industri sawit yang inklusif, adil, dan lestari.
Langkah ini mungkin dimulai dari sebuah gong yang dipukul di ruang pertemuan sederhana, tapi gema perubahan yang ditimbulkannya bisa terdengar jauh hingga ke pasar global — membawa pesan bahwa sawit dari Kutai Kartanegara bukan hanya produk, melainkan hasil kerja bersama yang berakar pada keberlanjutan dan kesejahteraan. (T2)
