“ISPO tidak boleh berhenti sebagai simbol. Ini adalah bukti kedaulatan kita dalam membangun standar keberlanjutan versi Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan tata kelola harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas petani kecil, agar seluruh rantai nilai sawit nasional ikut merasakan manfaatnya.
Strategi 3: Energi Hijau dan Kemandirian Ekonomi
Eddy juga menyoroti pentingnya kebijakan biofuel nasional sebagai bentuk nyata transisi menuju energi bersih. Mandat B35 dan B40, katanya, merupakan langkah visioner pemerintah dalam memperkuat permintaan domestik, menekan emisi karbon, serta menciptakan nilai tambah bagi petani.
BACA JUGA: Menapaki Jalan Sawit Berkelanjutan di Sekadau: Komitmen Bupati Aron Membangun dari Akar
“Biofuel berbasis sawit adalah tonggak penting. Ia bukan hanya menciptakan pasar baru di dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai energi global,” ujar Eddy.
Tak berhenti pada level kebijakan, GAPKI juga memperluas dampak melalui penguatan petani kecil dan pengembangan inovasi generasi muda. Tahun ini, GAPKI menobatkan Koperasi Petani Sawit Kutai Timur, Kalimantan Timur sebagai pemenang kompetisi produktivitas dengan capaian 37,4 ton TBS per hektar — tertinggi di Indonesia.
Selain itu, melalui Hackathon Sawit Nasional 2025, GAPKI mendorong partisipasi 139 tim mahasiswa dari 35 universitas untuk melahirkan solusi digital bagi industri sawit. Tim BiFlow dari ITS Surabaya tampil sebagai juara dengan inovasi “RAPIDS” — sistem deteksi dini penyakit Ganoderma boninense berbasis pembelajaran mesin dan radar non-invasif.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 12-18 November 2025 Turun Rp 118,67 per Kg
“Kami bangga melihat semangat anak muda. Mereka membuktikan bahwa sawit adalah ruang inovasi masa depan,” tutur Eddy.
GAPKI juga memperkenalkan Konsorsium Elaeidobius, kolaborasi riset lintas lembaga untuk meningkatkan produktivitas sawit melalui inovasi penyerbukan alami dengan tiga spesies serangga penyerbuk. Program ini dijalankan bersama Kementerian Pertanian, Badan Karantina Indonesia, BPDP, dan lembaga riset nasional maupun internasional.
“Penyerbukan efisien berarti produktivitas lebih tinggi tanpa perlu memperluas lahan. Itulah makna keberlanjutan sejati,” kata Eddy menutup pidatonya. (T2)
