InfoSAWIT, JAKARTA – Eko Widodo dari Institut Transformasi Digital Indonesia (ITDI), mitra NUIJI, mengungkapkan, di tengah berbagai teknologi, system Enterprise Resource Planning (ERP) Plantation menjadi tulang punggung digitalisasi perkebunan. ERP memungkinkan pengelolaan sumber daya—dari pekerja, pupuk, solar, hingga perawatan—secara efisien melalui input data real time.
Absensi berbasis face recognition menekan kecurangan, sementara pencatatan panen dan pengangkutan TBS secara langsung memudahkan evaluasi efisiensi logistik. Data laboratorium terkait kadar free fatty acid (FFA) juga terintegrasi, membantu pengawasan mutu CPO harian.
Keuntungan lainnya adalah model biaya berbasis opex, tanpa investasi awal yang besar. Dengan cloud server, data dapat diakses baik dari kantor pusat maupun site, dengan pembaruan sistem otomatis mengikuti perubahan regulasi.
BACA JUGA: Prabowo Dorong Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Sawit untuk Kemandirian Papua
Transformasi digital di perkebunan sawit bukan sekadar mengikuti tren industri 4.0, tetapi juga menjawab tantangan produktivitas, keberlanjutan, dan transparansi. Proses evaluasi yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Dengan efisiensi tinggi dan biaya yang relatif rendah, digitalisasi memberi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, sekaligus memenuhi tuntutan pasar akan keberlanjutan dan jejak karbon rendah.
“High benefit, low cost—itulah yang bisa diberikan ERP Plantation dan teknologi digital lainnya. Yang penting adalah komitmen untuk memulai dan konsistensi dalam menjalankan,” tutup Eko Widodo. (T2)
