InfoSAWIT, BEKASI – Diakui atau tidak, industri sawit Indonesia terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Namun, jika ingin tetap menjadi primadona sekaligus berkontribusi pada visi Indonesia Emas 2045, pengembangan sumber daya manusia (SDM) sawit harus menjadi prioritas utama. Hal itu ditegaskan oleh Baginda Siagian, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian.
“Ekosistem sawit yang berkelanjutan bukan hanya soal produksi dan industri, tetapi juga kualitas SDM serta infrastruktur yang mendukungnya. Kalau kita serius menyiapkan generasi muda sawit, maka kita bisa bersaing dengan negara lain seperti Malaysia, India, Thailand, hingga Argentina,” ungkap Baginda kepada InfoSAWIT.
Program pengembangan SDM sawit, terutama melalui jalur beasiswa, terus mendapat respon luar biasa. Tahun ini saja, jumlah pendaftar mencapai 20 ribu orang. Namun, hanya sekitar 4.000 yang bisa diterima karena keterbatasan kuota dan fasilitas.
BACA JUGA: MPOC Perkirakan Harga CPO Bergerak Terbatas pada Januari 2026, Stok Tinggi Menekan Pasar
Baginda menilai, jika seleksi bisa dilakukan lebih awal, bahkan sebelum ujian masuk perguruan tinggi (SNBT), angka pendaftar bisa lebih besar lagi. Apalagi program beasiswa sawit ini terbilang istimewa: dibiayai penuh mulai dari tiket keberangkatan, biaya sekolah, fasilitas kampus, hingga kebutuhan dasar mahasiswa.
“Kalau ke depan jumlah penerima beasiswa bisa terus ditingkatkan, tentu akan semakin bagus. Namun itu tergantung kesiapan infrastruktur, ketersediaan pengajar, serta dukungan dana,” jelasnya.
Poltek CWE Jadi Contoh
Salah satu kampus yang menjadi pusat pengembangan SDM sawit adalah Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (Poltek CWE). Saat ini, kampus yang berlokasi di Bekasi tersebut menampung sekitar 350 mahasiswa penerima beasiswa sawit. Kapasitas itu, kata Baginda, bisa terus ditingkatkan.
“Kalau fasilitas dan tenaga pengajar siap, Poltek CWE bahkan bisa menampung 500 sampai 700 mahasiswa. Itu modal besar untuk mempercepat lahirnya tenaga profesional sawit di masa depan,” ujarnya.
Selain Poltek CWE, sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta yang memiliki program vokasi juga diharapkan aktif mengembangkan kurikulum, metode pengajaran, serta riset-riset terapan di bidang sawit.
Baginda optimistis, dalam 20–30 tahun mendatang sawit masih akan menjadi komoditas andalan Indonesia. Bukan hanya sebagai penyumbang devisa negara, tetapi juga sebagai penyedia lapangan kerja terbesar bagi jutaan petani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II-Desember 2025 Tertinggi Rp 3.395,03 per Kg
“Kelapa sawit tetap akan menjadi primadona, dengan catatan ekosistemnya kita bangun bersama: SDM berkualitas, pendidikan vokasi yang kuat, infrastruktur siap, dan industri yang berkelanjutan,” tandasnya. (*)
