InfoSAWIT, SAMPIT — Di antara hamparan hijau perkebunan kelapa sawit, berdiri bangunan sekolah megah dengan fasilitas modern. Pemandangan ini terasa kontras, seolah membawa suasana kawasan pendidikan unggulan perkotaan ke pelosok perkebunan. Inilah Sekolah Bina Bangsa 02, yang berlokasi di wilayah PT Karunia Kencana Permaisejati, unit usaha Wilmar Group, di Desa Kenyala, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Bina Bangsa di bawah Wilmar Central Kalimantan Project. Kehadirannya menjadi bukti bahwa sektor perkebunan tidak hanya bicara soal produksi dan bisnis, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia.
Koordinator Yayasan Bina Bangsa, Siti Wahyuni, menjelaskan bahwa pendidikan merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan. Wilmar menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama untuk menyiapkan generasi masa depan, khususnya bagi anak-anak yang tumbuh di sekitar perkebunan.
BACA JUGA: Wilmar Raih Penghargaan Early Adopting Company dari Setara Institute, Komitmen HAM Jadi Perhatian
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sehingga harus disiapkan sebaik mungkin. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara,” ujar Wahyuni, dalam keterangannya kepada InfoSAWIT, Jumat (9/1/12026).
Saat ini, Yayasan Bina Bangsa mengelola total 20 sekolah di Kalimantan Tengah, terdiri dari delapan Taman Kanak-Kanak (TK), enam Sekolah Dasar (SD), tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Seluruh sekolah tersebut menampung 6.004 siswa dengan dukungan 289 tenaga pendidik, dan tersebar di tiga wilayah operasional perkebunan Wilmar.
Menariknya, konsep pendidikan yang diterapkan bersifat gratis. Para siswa tidak dipungut biaya pendidikan, kecuali untuk kebutuhan seragam. Akses pendidikan ini tidak hanya diberikan bagi anak-anak karyawan perkebunan, tetapi juga terbuka untuk masyarakat sekitar. Tercatat, sekitar 380 siswa berasal dari desa-desa binaan di sekitar area perkebunan.
BACA JUGA: Wilmar Dukung Petani Sawit Labuhanbatu Lewat Program Kebun Kemitraan
Selain kurikulum formal, Sekolah Bina Bangsa juga menaruh perhatian besar pada pengembangan minat dan bakat siswa. Beragam kegiatan ekstrakurikuler seperti seni tari, musik, berkebun, drum band, hingga teknologi informasi menjadi bagian dari proses pembelajaran. Pendekatan ini mendorong lahirnya berbagai prestasi, baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Berkat capaian tersebut, Sekolah Bina Bangsa ditetapkan sebagai sekolah penggerak—program pemerintah yang bertujuan mempercepat peningkatan kualitas sekolah agar melompat satu hingga dua tahap lebih maju.
“Program yang kami jalankan diharapkan dapat sejalan dan mendukung upaya pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul, khususnya di wilayah perkebunan,” tutup Wahyuni.
BACA JUGA: Wilmar Tetapkan Target Pengurangan Emisi Karbon Sesuai Standar SBTi
Di tengah tantangan pemerataan pendidikan, kehadiran sekolah unggulan di jantung perkebunan sawit ini menjadi contoh konkret bagaimana dunia usaha dapat berperan aktif membangun masa depan bangsa. (T2)




















