InfoSAWIT, KARACHI — Indonesia dan Pakistan menegaskan penguatan kemitraan strategis melalui penyelenggaraan Indonesia Palm Oil Networking Reception di Karachi, Jumat (9/1). Acara yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Karachi bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) ini menjadi momentum penting peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Pakistan, sekaligus penanda fase baru kerja sama ekonomi kedua negara pasca kunjungan kenegaraan Presiden RI ke Islamabad pada Desember 2025.
Forum jejaring ini dihadiri Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri, Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan, Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir, serta Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Eddy Martono. Turut hadir perwakilan Council of Palm Oil Producing Countries, Konsul Jenderal Malaysia untuk Karachi, pelaku industri minyak nabati Pakistan, serta perwakilan KADIN Indonesia.
Dalam sambutannya, Dubes RI Chandra W. Sukotjo menegaskan bahwa hubungan Indonesia–Pakistan kini memasuki babak baru yang lebih strategis dan berorientasi masa depan. Industri kelapa sawit, menurutnya, menjadi salah satu pilar utama kerja sama ekonomi bilateral yang telah terbangun kuat selama puluhan tahun.
BACA JUGA: Sawit Kerap Dijadikan Kambing Hitam Bencana, Petani Ungkap Sejarah Panjang Kerusakan Hutan
Indonesia, lanjut Sukotjo, berkomitmen mendorong kemakmuran bersama melalui hubungan perdagangan yang lebih berimbang, termasuk membuka peluang peningkatan impor dari Pakistan serta menjajaki penciptaan nilai tambah di luar perdagangan yang bersifat transaksional semata. Karachi pun dipandang sebagai gerbang ekonomi Pakistan dan mitra alami Indonesia untuk memperluas jangkauan ekonomi di kawasan Asia Selatan.
“Pertemuan ini menjadi wadah untuk mengakui kemitraan yang telah ada, memperkuat kepercayaan, sekaligus menjajaki peluang baru menuju kerja sama ekonomi yang lebih terstruktur dan berorientasi masa depan,” ujarnya, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Senin (12/1/2026).
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menegaskan peran asosiasi sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya KJRI Karachi dan Kementerian Perdagangan, dalam memperkuat hubungan bilateral. GAPKI, kata Eddy, memastikan tersedianya informasi yang akurat dan berbasis fakta mengenai praktik industri kelapa sawit Indonesia, termasuk aspek keberlanjutan.
BACA JUGA: PUSTAKA ALAM Kecam Penahanan Ketua Koperasi Plasma, Dinilai Kriminalisasi Petani Kecil
Indonesia, lanjutnya, akan terus menjadi pemasok minyak sawit yang stabil, bertanggung jawab, dan andal bagi Pakistan—salah satu importir minyak sawit terbesar di dunia. GAPKI bersama mitra Pakistan juga memfasilitasi kontrak dagang langsung antara produsen Indonesia dan pembeli Pakistan, sekaligus mendorong kolaborasi teknis di bidang refinery dan pengolahan minyak sawit.
Dalam pidatonya, Wamendag Dyah Roro kembali menegaskan arti strategis Pakistan bagi Indonesia. “Pakistan penting bagi Indonesia. Pasar Pakistan, industri Pakistan, dan konsumen Pakistan sangat penting bagi kami,” tegasnya.
Hubungan dagang kedua negara memang telah terjalin erat sejak lama. Dari sekitar 150 negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, Pakistan menempati peringkat ketiga. Berdasarkan data Oil World 2025, nilai impor minyak sawit Indonesia ke Pakistan terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan lonjakan signifikan pada 2024 yang mencapai lebih dari 3 juta ton. Bahkan, data industri menunjukkan Indonesia memasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak sawit Pakistan.
Wamendag juga menegaskan komitmen Indonesia untuk menciptakan perdagangan yang lebih seimbang dengan membuka peluang lebih luas bagi produk unggulan Pakistan, mulai dari sektor pertanian hingga layanan digital.
Sebagai wujud konkret penguatan kerja sama, pada kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan tiga dokumen kesepakatan penting. Pertama, Nota Kesepahaman (MoU) pembentukan Komisi Perdagangan Bersama Indonesia–Pakistan yang ditandatangani Wamendag RI dan Mendag Pakistan. Komisi ini diharapkan menjadi forum resmi untuk mengelola hubungan ekonomi bilateral secara berkelanjutan, mengatasi hambatan perdagangan, serta menjajaki peluang baru ekspor-impor.
Kedua dan ketiga, penandatanganan MoU kerja sama sektoral antara GAPKI dengan Pakistan Edible Oil Refiners Association dan Pakistan Vegetable Manufacturers Association. Kerja sama ini bertujuan mengamankan rantai pasok serta menjaga stabilitas harga minyak sawit di kedua negara, sekaligus memperkuat fondasi kemitraan jangka panjang Indonesia–Pakistan. (T2)
