Ia menjelaskan, hutan alami bersifat heterogen dengan beragam spesies, sementara kebun sawit bersifat homogen. Hutan heterogen dinilai lebih tangguh terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim, sedangkan ekosistem homogen jauh lebih rentan.
“Dalam sistem homogen, ketika satu komponen terganggu, dampaknya bisa menyebar dengan cepat. Ini berbeda dengan hutan alam yang memiliki mekanisme penyangga alami,” ujarnya.
Dorong Evaluasi Kebijakan Kehutanan
Aziz menegaskan, pengelolaan hutan Indonesia perlu memandang hutan tidak semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai sistem penopang kehidupan. Hutan berfungsi menyediakan oksigen, menyimpan karbon, mengatur tata air, melindungi tanah, serta menjadi ruang hidup bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal.
BACA JUGA: HLIB Pertahankan Proyeksi Harga CPO RM4.200 per Ton
Ia mendorong evaluasi kebijakan kehutanan agar tidak hanya berfokus pada angka tutupan lahan, tetapi juga pada kualitas ekosistem dan keberlanjutan fungsi ekologisnya. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan menuntut kejujuran dalam mendefinisikan hutan serta keberanian menempatkan kepentingan ekologi sejajar dengan kepentingan ekonomi.
“Yang perlu ditanyakan bukan hanya seberapa luas lahan yang hijau, tetapi hijau dalam bentuk apa dan untuk fungsi apa. Jika yang bertambah adalah sawit sementara hutan alam terus menyusut, maka keberlanjutan lingkungan Indonesia patut dipertanyakan,” pungkasnya. (T2)
