InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong percepatan hilirisasi kelapa sawit sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas strategis tersebut di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Dengan produktivitas tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya serta efisiensi penggunaan lahan, kelapa sawit kerap disebut sebagai miracle crop yang menjadi andalan perekonomian nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang perlu dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar. Inilah yang membuat sawit layak disebut miracle crop,” ujar Mentan Amran dalam keterangan resmi diperoleh InfoSAWIT, Jumat (27/2/2026).
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, luas areal kelapa sawit Indonesia pada 2024 hingga 2025 (angka sementara) tercatat mencapai 16,83 juta hektare. Pada 2024, produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 45,44 juta ton dengan produktivitas rata-rata sebesar 3,5 ton per hektare.
Empat provinsi tercatat sebagai kontributor utama produksi sawit nasional pada tahun tersebut, yakni Riau dengan produksi 9,14 juta ton, Kalimantan Tengah sebesar 7,46 juta ton, Kalimantan Barat sebesar 4,96 juta ton, serta Kalimantan Timur sebesar 3,90 juta ton.
Memasuki 2025 (angka sementara), produksi nasional meningkat menjadi 46,55 juta ton CPO dengan produktivitas rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare. Riau masih menjadi kontributor terbesar dengan produksi 9,46 juta ton, diikuti Kalimantan Tengah sebesar 7,59 juta ton, Kalimantan Barat sebesar 4,94 juta ton, dan Kalimantan Timur sebesar 4,29 juta ton.
BACA JUGA: Kajian CSIS Tekankan Pentingnya Batas Lahan Sawit untuk Transisi Energi
Peningkatan produksi tersebut semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Dari sisi perdagangan global, pada 2024 volume ekspor sawit Indonesia tercatat sebesar 32,34 juta ton dengan nilai mencapai US$22,85 miliar. Sementara pada 2025, volume ekspor meningkat menjadi 36,37 juta ton dengan nilai mencapai US$28,50 miliar.
Mentan Amran menjelaskan, arah kebijakan Kementan saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi di sektor hulu, tetapi juga pada penguatan hilirisasi agar nilai tambah komoditas sawit dapat dinikmati di dalam negeri. Pengembangan produk turunan sawit, mulai dari pangan olahan, oleokimia, hingga bioenergi seperti biodiesel, dinilai menjadi kunci dalam memperkokoh ketahanan energi nasional sekaligus memperluas lapangan kerja.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menambahkan bahwa kelapa sawit memiliki produktivitas minyak per hektare yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. Dengan efisiensi lahan tersebut, sawit diharapkan mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati global tanpa mendorong pembukaan lahan secara berlebihan serta tetap sesuai dengan ketentuan keberlanjutan.
“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas oleh petani sawit, pelaku usaha, dan masyarakat,” jelas Roni.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan sertifikasi dan praktik budidaya berkelanjutan, termasuk percepatan program peremajaan sawit rakyat guna menjaga produktivitas kebun. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar global sekaligus menjawab berbagai tantangan isu lingkungan.
Dengan strategi hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Kementan optimistis kelapa sawit akan semakin memperkokoh posisinya sebagai komoditas strategis nasional sekaligus motor penggerak industrialisasi berbasis perkebunan yang berkelanjutan dan berkeadilan. (T2)
