InfoSAWIT, JAKARTA – Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengungkapkan potensi besar sektor sawit nasional dalam perdagangan karbon global yang kini mulai dilirik oleh China. Dalam perhitungan yang disampaikan pada acara buka bersama media, dihadiri InfoSAWIT, Rabu (24/3/2026), sektor sawit Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 45,3 juta ton CO₂ per tahun dari skema carbon trading, dengan nilai ekonomi mencapai sekitar ratusan juta dollar dengan nilai karbon sekitar US$5/ton.
Menurut Sahat, untuk mengoptimalkan peluang tersebut diperlukan perbaikan program peremajaan sawit rakyat (replanting) yang saat ini potensinya diperkirakan mencapai sekitar 35% atau setara 2,5 juta hektare lahan petani sawit nasional.
Sahat berharap produktivitas tandan buah segar (TBS) petani sawit yang saat ini rata-rata berada di kisaran 9,2 ton TBS per hektare per tahun dapat meningkat hingga 21 ton TBS per hektare per tahun melalui intensifikasi dan penerapan praktik budidaya berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Rabu (25/2), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Ia juga menjelaskan bahwa total perkebunan sawit di Indonesia saat ini mencapai sekitar 16,38 juta hektare atau hanya sekitar 6% dari total daratan nasional. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan penggunaan lahan di Uni Eropa yang mencapai hingga 40%.
Menghadapi tantangan keberlanjutan menuju 2030, Sahat menekankan pentingnya penerapan regenerative agriculture dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia serta mengembangkan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomassa sawit. Dari setiap satu ton minyak sawit yang dihasilkan, terdapat sekitar tujuh ton biomassa yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dimanfaatkan secara optimal.
Ia menambahkan, praktik intensifikasi menjadi kunci peningkatan produksi tanpa perlu membuka lahan baru, mengingat kebun sawit yang dikelola dengan baik mampu menghasilkan hingga 33 ton TBS per hektare per tahun.
BACA JUGA: Kajian CSIS Tekankan Pentingnya Batas Lahan Sawit untuk Transisi Energi
Usulan Nama Pengganti CPO
Untuk menghindari kesalahpahaman global terhadap istilah Crude Palm Oil (CPO), Sahat mengusulkan penggunaan istilah baru yakni degummed mesocarp palm oil (DMPO), merujuk pada minyak sawit yang berasal dari bagian mesocarp buah, sehingga tidak lagi diasosiasikan sebagai minyak mentah.
Melalui kerja sama dengan Bappenas, diharapkan seluruh bagian tanaman sawit mulai dari akar hingga pucuk dapat dimanfaatkan secara maksimal, termasuk biomassa yang berpotensi dikembangkan menjadi bioenergi seperti etanol dan metanol guna mendukung transisi energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor sawit nasional. (T2)
