InfoSAWIT, JAMBI – Dulu, sertifikasi sawit berkelanjutan kerap dipandang sebagai beban berat bagi petani swadaya. Standar yang harus dipenuhi tidak sederhana, mulai dari perbaikan praktik budidaya, pembenahan tata kelola kelembagaan, hingga komitmen nyata terhadap perlindungan lingkungan.
Namun waktu mengubah cara pandang. Sertifikasi kini dilihat sebagai pintu masuk menuju perbaikan kebun, akses pasar yang lebih luas, hingga peluang insentif ekonomi. Salah satu skema yang membuka peluang tersebut adalah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang memungkinkan petani memperoleh tambahan pendapatan melalui penjualan kredit keberlanjutan.
Berangkat dari keyakinan itu, Perkumpulan Petani Swadaya Bangun Seranten (PPSBS) di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, mengambil keputusan berani. Dengan 212 anggota dan total luasan 401 hektare, mereka memutuskan maju mengikuti audit sertifikasi RSPO—meski kondisi keuangan terbatas.
BACA JUGA: Dilema Biodiesel B50 dan Ekspor Sawit
Langkahnya tidak biasa. PPSBS meminjam dana dari dua asosiasi petani yang telah lebih dulu bersertifikat RSPO, yakni Koperasi Produsen Tanjung Sehati Lestari (KPTSL) Merangin dan Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML) Tanjung Jabung Barat.
“Kami melihat kelompok yang sudah bersertifikat RSPO sering mendapat pelatihan, aktif bergotong royong membersihkan sungai, bahkan bisa berbagi bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Kami ingin seperti itu,” ungkap Ikhwanuddin, Ketua PPSBS Tebo dalam keterangan tertulis kepada InfoSAWIT, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, ketiadaan dukungan awal tidak menyurutkan semangat anggota. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai persiapan audit, audit eksternal, serta keanggotaan RSPO. Beruntung, pada 2022—tiga tahun sebelum audit eksternal—PPSBS telah mendapatkan pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat berupa pelatihan budidaya dan pemetaan kebun. Hal itu meringankan beban biaya sertifikasi.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Kamis (26/2), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Masih Lesu
Tekad dan solidaritas akhirnya membuahkan hasil. PPSBS resmi menerima sertifikat RSPO dalam pertemuan tahunan RSPO (RT) 2025 di Bangkok.
Benar saja, dampaknya terasa cepat. Kurang dari tiga bulan setelah sertifikasi terbit, PPSBS memperoleh insentif dari penjualan kredit RSPO. Kredit tersebut dibeli oleh Walgreens Boots Alliance dengan nilai transaksi mencapai US$28.949.
Pembelian ini menjadi bentuk dukungan nyata pasar terhadap upaya petani swadaya yang berjuang memenuhi standar keberlanjutan, meski dengan keterbatasan modal.
BACA JUGA: Kajian CSIS Tekankan Pentingnya Batas Lahan Sawit untuk Transisi Energi
Dana dari kredit RSPO tidak hanya digunakan untuk melunasi pinjaman kepada dua asosiasi pendukung. PPSBS juga mengalokasikan sebagian dana untuk kegiatan sosial, termasuk membantu anak usia sekolah dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang kurang mampu, serta mendukung rehabilitasi sungai di desa mereka.
Kisah PPSBS Tebo bukan sekadar cerita tentang sertifikasi. Ini adalah kisah keberanian mengambil risiko, solidaritas antarpetani, dan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah. Mereka membuktikan bahwa sertifikasi bukanlah beban, dan keberlanjutan bukan sekadar wacana—melainkan investasi nyata untuk masa depan kebun, lingkungan, dan generasi berikutnya. (T3)
