Pertanian Regeneratif Dinilai Jadi Solusi Pemulihan Lahan dan Peluang Ekonomi Petani

oleh -2.332 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Webinar Series Episode 1 bertajuk “Pemulihan Lahan sebagai Peluang Ekonomi dalam Transformasi Menuju Pertanian Regeneratif” yang diselenggarakan Kaleka Indonesia, dihadiri InfoSAWIT, pada Rabu (11/3).

InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah menurunnya kualitas lahan pertanian, meningkatnya biaya produksi, serta ketidakpastian pasar yang dihadapi petani kecil, transformasi sistem pertanian Indonesia dinilai semakin mendesak. Pendekatan pertanian regeneratif mulai dipandang sebagai strategi penting untuk memulihkan kondisi lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

Isu tersebut menjadi fokus dalam Webinar Series Episode 1 bertajuk “Pemulihan Lahan sebagai Peluang Ekonomi dalam Transformasi Menuju Pertanian Regeneratif” yang diselenggarakan Kaleka Indonesia, dihadiri InfoSAWIT, pada Rabu (11/3). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi lapangan, penggerak kelembagaan petani, serta pelaku rantai pasok untuk membahas bagaimana pemulihan lahan dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan nilai tambah ekonomi.

Pertanian regeneratif merupakan pendekatan yang tidak hanya berupaya mengurangi dampak negatif kegiatan budidaya terhadap lingkungan, tetapi juga secara aktif memperbaiki kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, memperkuat siklus air, serta membangun sistem usaha tani yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

BACA JUGA: Prabowo Sebut Sawit, Singkong, Jagung dan Tebu Berpotensi Dukung Ketahanan Energi Indonesia

Pendekatan ini juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap input kimia sintetis melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan praktik budidaya yang lebih adaptif.

Namun demikian, adopsi pertanian regeneratif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari keterbatasan akses sarana produksi, kesenjangan pengetahuan di tingkat petani, hingga belum optimalnya model bisnis yang mampu menjamin keberlanjutan ekonomi petani kecil.

 

Kondisi Tanah Pertanian Masih Rentan

Salah satu narasumber, Dr. Heru Bagus Pulunggono dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB University memaparkan kondisi kualitas tanah pertanian di Indonesia yang umumnya masih memiliki tingkat kesuburan rendah.

BACA JUGA: Hari Perempuan Nasional, Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan di Industri Sawit

“Kondisi tanah di Indonesia pada umumnya bersifat masam dengan tingkat kesuburan yang relatif rendah, sementara curah hujan tinggi menyebabkan pencucian unsur hara berlangsung cepat. Dalam situasi seperti ini, praktik pertanian yang hanya mengejar produksi tinggi tanpa pengelolaan lahan yang baik akan mempercepat degradasi tanah. Karena itu, pendekatan yang lebih berkelanjutan—yang memadukan perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta praktik pertanian yang ramah lingkungan—menjadi kunci untuk menjaga produktivitas,” jelasnya.

 

Praktik Restorasi Lahan dari Lapangan

Dari sisi praktik lapangan, penggiat lingkungan sekaligus pengelola Hutan Organik Megamendung, Rosita Istiawan, berbagi pengalaman rehabilitasi lahan terdegradasi melalui pendekatan organik.

Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2000 pihaknya berhasil memulihkan lahan bekas perkebunan teh yang sangat asam menjadi kawasan berhutan seluas sekitar 30 hektare dengan puluhan ribu pohon.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 11–17 Maret 2026 Naik Rp129,83 per Kg  

“Dulu lahan yang kami kelola adalah tanah gersang dan sangat asam. Kami menanam pohon satu per satu, merawatnya dengan sabar, dan menggunakan teknik tumpang sari dengan sayuran agar tanah tetap lembap tanpa bahan kimia. Setelah bertahun-tahun, lahan yang dulu kritis kini berkembang menjadi lebih dari 30 hektare hutan organik. Setiap kali ada pohon yang mati segera diganti. Pohon endemik dari seluruh Indonesia ada di sini dan semuanya tumbuh tanpa campuran bahan kimia,” ungkap Rosita.

Menurutnya, perubahan tersebut juga memberikan dampak ekologis yang nyata bagi lingkungan sekitar, termasuk kembalinya sumber air yang sebelumnya sempat menghilang.

 

Penguatan Kelembagaan Petani Jadi Kunci

Sementara itu, Mansuetus Darto dari Tani Baik menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani serta keterhubungan dengan pasar agar praktik pertanian berkelanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi nyata bagi petani kecil.

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com