“Sejak revolusi industri, banyak petani terdorong mengadopsi sistem pertanian konvensional yang menekankan peningkatan produksi melalui penggunaan teknologi dan input kimia. Padahal jauh sebelum itu, petani kita telah mengenal berbagai praktik yang menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah. Pertanian regeneratif sebenarnya bukan hal baru, melainkan pengetahuan lama yang perlu dihidupkan kembali,” ujarnya.
Dari perspektif implementasi program, Koordinator Sistem Pangan Kaleka, Mila Oktavia Mardiani, memaparkan pengalaman pendampingan petani sawit swadaya di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah melalui program Gawi Bapakat.
Menurutnya, program tersebut mengintegrasikan praktik pertanian regeneratif dengan penguatan rantai pasok komoditas berkelanjutan.
BACA JUGA: Dilema Investasi Sawit Indonesia
“Fungsi tanah sebagai media tumbuh, penyimpan air, dan habitat keanekaragaman hayati kini banyak mengalami penurunan akibat alih guna lahan. Melalui Gawi Bapakat, petani mendapatkan pendampingan di tingkat lahan dan lanskap guna melindungi serta memulihkan ekosistem yang menopang sektor pertanian,” jelas Mila.
Ia menambahkan bahwa penerapan pertanian regeneratif pada sistem kelapa sawit monokultur skala kecil terbukti mampu meningkatkan produksi hingga sekitar 12%.
“Dengan pergeseran dari ketergantungan pupuk anorganik menuju pemanfaatan limbah lokal seperti sisa panen, gulma, dan limbah rumah tangga sebagai bahan baku pupuk organik, petani dapat meningkatkan efisiensi manajemen kebun secara mandiri,” tambahnya. (T2)
