InfoSAWIT, MEDAN – Memperingati Hari Perempuan Nasional, perusahaan kelapa sawit terintegrasi Musim Mas kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong industri kelapa sawit yang lebih inklusif melalui penguatan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender di sepanjang rantai pasok.
Bagi Musim Mas, perempuan memegang peran strategis dalam mendorong keberlanjutan dan kemajuan industri sawit. Karena itu, komitmen terhadap kesetaraan gender tidak hanya dipandang sebagai tanggung jawab moral, tetapi juga bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang perusahaan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif, mulai dari penguatan Komite Gender di lingkungan operasional hingga pelaksanaan Women Smallholders Program (WSP) di tingkat komunitas. Upaya ini juga menjadi salah satu fokus dalam Sustainability Roadmap Musim Mas 2026–2030, yang menempatkan Gender Equity and Women Empowerment sebagai strategi prioritas.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Tembus RM4.500 per ton, Tertinggi Sejak Oktober
Melalui pendekatan tersebut, Musim Mas berupaya memperluas peran perempuan di sektor perkebunan sawit, sekaligus memperkuat kontribusi mereka dalam mendorong industri yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing.
Komite Gender Perkuat Perlindungan Pekerja Perempuan
Sejak dibentuk pada 2008, Komite Gender menjadi salah satu pilar penting perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, bermartabat, dan inklusif bagi seluruh pekerja, khususnya perempuan.
Di tingkat operasional, komite ini berperan dalam memberikan perlindungan bagi pekerja perempuan sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi mereka untuk berkontribusi secara strategis dalam perusahaan.
BACA JUGA: SPKS Sosialisasi PSR di Aceh Utara Kemitraan dengan PTPN IV, Dibungkus Silaturahmi Ramadan
Untuk memperkuat inisiatif tersebut, Musim Mas juga berkolaborasi dengan Dignity in Work for All (DIWA), organisasi nirlaba global yang berfokus pada pemenuhan hak dan martabat pekerja. Melalui berbagai kegiatan seperti penilaian kondisi kerja, diskusi kelompok terarah dengan pekerja, hingga pelatihan bagi anggota Komite Gender serta pekerja di kebun dan pabrik, program ini mendorong perubahan yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga menyentuh pola pikir dan budaya kerja.
Pendekatan ini juga membuka ruang aman bagi pekerja perempuan untuk menyampaikan aspirasi maupun pengalaman mereka, sekaligus memperkuat mekanisme penanganan isu sensitif seperti diskriminasi, kekerasan berbasis gender, dan pelecehan seksual dengan pendekatan yang berpusat pada penyintas.
Selain itu, berbagai pelatihan juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesetaraan gender, memperkuat kepemimpinan perempuan, serta mendorong peran laki-laki sebagai mitra aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang setara.
BACA JUGA: Kisah Sangeetha Umakanthan, Wakil Direktur Komunikasi RSPO yang Siap Ubah Narasi Sawit
Perempuan Pekebun Diperkuat Melalui Women Smallholders Program
Upaya pemberdayaan perempuan juga diperluas hingga ke tingkat komunitas melalui Women Smallholders Program (WSP). Program ini menyasar pekebun perempuan serta istri pekebun sawit, dengan tujuan memperkuat kapasitas sosial dan ekonomi mereka agar dapat berkontribusi lebih besar dalam keluarga, usaha perkebunan, maupun komunitas.
WSP dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di kawasan perkebunan, melalui pelatihan nutrisi dan kesehatan keluarga, literasi keuangan, serta pengembangan peluang bisnis rumahan.
Pada 2023, tahap awal program ini diimplementasikan di tiga kabupaten di Provinsi Riau dengan menggandeng akademisi dari Universitas Sumatera Utara serta lembaga keuangan nasional.
