InfoSAWIT, JAKARTA – Isu “sawit merusak lingkungan” kembali mencuat di ruang publik, terutama setelah rangkaian banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh pada akhir 2025. Narasi tersebut menyebar luas di platform digital, meski kerap tidak disertai dukungan data ilmiah yang komprehensif.
Dalam momentum Hari Bumi Sedunia (22 April), Media Perkebunan menggelar 1st International Environment Forum (IEF) 2026 guna membedah isu tersebut secara akademis dan berbasis data lapangan. Forum ini didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) serta melibatkan mahasiswa, akademisi, praktisi, hingga pelaku industri dari dalam dan luar negeri.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 16,83 juta hektare pada periode 2025–2026. Komoditas ini menjadi penyumbang devisa nonmigas terbesar dengan nilai sekitar Rp440 triliun pada 2024, sekaligus menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 16 juta orang.
BACA JUGA: Nilai Ekspor Sawit Februari 2026 Tembus US$3,69 Miliar, Naik 28,88% Secara YoY
Ketua panitia IEF 2026, Hendra J. Purba, menegaskan pentingnya forum ini sebagai ruang diskusi ilmiah untuk meluruskan persepsi publik.
“Forum ini diharapkan menjadi wadah ilmiah bagi generasi muda untuk menyampaikan bahwa narasi ‘sawit merusak lingkungan’ tidak sepenuhnya benar dan perlu dikaji berdasarkan fakta lapangan,” ujarnya dalam pembukaan acara, dihadiri InfoSAWIT, Selasa (22/4/2026).
Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016–2019, Bambang, menilai bahwa persepsi negatif terhadap sawit perlu diluruskan melalui edukasi berbasis data.
BACA JUGA: PPKSS Tayo Barokah Bangun Kantor Layanan, Dorong Kesejahteraan Petani Sawit Swadaya di Rokan Hulu
Menurutnya, kelapa sawit memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, sehingga membutuhkan lahan yang lebih sedikit untuk menghasilkan volume minyak yang sama.
“Mahasiswa harus mampu mengedukasi masyarakat bahwa sawit memiliki produktivitas lebih tinggi, sehingga lebih efisien dalam penggunaan lahan dibandingkan komoditas minyak nabati lain,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran sawit dalam transisi energi, terutama menjelang implementasi program B50 yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
BACA JUGA: Ekspor Sawit Februari 2026 Naik hingga 33,96% Secara YoY
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga Andri, menekankan bahwa sawit Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global.
“Ada kontribusi sangat kuat sawit untuk pangan dan energi. Indonesia menyumbang sekitar 62% pasokan sawit dunia dan lebih dari 54% terhadap minyak nabati global, dengan produktivitas 5–10 kali lebih tinggi dibandingkan komoditas lain,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa industri sawit nasional telah diatur melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2025, yang mencakup aspek lingkungan dan tata kelola lahan berkelanjutan.
