InfoSAWIT, JAKARTA – Kinerja ekspor industri kelapa sawit Indonesia kembali menunjukkan tren positif pada Februari 2026, baik dari sisi nilai maupun dukungan harga global yang lebih tinggi.
Merujuk catatan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, nilai ekspor produk sawit pada Februari 2026 tercatat meningkat menjadi US$ 3,69 miliar, naik 9,70% dibandingkan Januari yang sebesar US$ 3,36 miliar.
“Nilai ekspor produk sawit bulan Februari meningkat dari US$ 3,36 miliar di bulan Januari menjadi US$ 3,69 miliar atau naik 9,70%. Secara YoY sampai Februari, nilai ekspor 2026 mencapai US$ 7,05 miliar atau 28,88% lebih tinggi dari tahun 2025 sebesar US$ 5,47 miliar,” ungkap Mukti dalam keterangannya, ditulis InfoSAWIT, Rabu (22/4/2026).
BACA JUGA: Koperasi BMJ Simalungun Perkuat Kelembagaan, Tingkatkan Kapasitas Petani Sawit Swadaya
Ia menjelaskan, peningkatan nilai ekspor tersebut tidak hanya didorong oleh kenaikan volume pengiriman, tetapi juga oleh tren harga yang lebih tinggi di pasar internasional.
“Harga rata-rata Januari–Februari 2026 mencapai US$ 1.306 per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$ 1.218 per ton,” tambahnya.
Stok Sawit Menurun di Akhir Februari 2026
Di sisi lain, GAPKI juga mencatat pergerakan stok minyak sawit nasional yang cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
BACA JUGA: FORTASBI Ingatkan Petani Sawit Waspadai Kemarau 2026, Risiko Kebakaran Meningkat
Dengan stok awal tahun 2026 sebesar 2,068 juta ton, serta total produksi Januari–Februari (CPO+PKO) mencapai 10,737 juta ton, konsumsi domestik sebesar 4,409 juta ton, dan ekspor sebesar 6,378 juta ton, maka stok akhir Februari 2026 tercatat sebesar 2,026 juta ton.
“Stok akhir Februari 2026 menjadi 2.026 ribu ton, lebih rendah dibandingkan stok akhir Februari 2025 yang mencapai 2.250 ribu ton,” jelas Mukti. (T2)
