“Standar keberlanjutan yang kita terapkan bersifat universal dan dapat diakui secara global,” tambahnya.
Dari sisi akademis, Prof. Sudarsono Soedomo dari IPB menjelaskan bahwa penyebab banjir bandang di Sumatera tidak dapat disederhanakan hanya pada faktor penggunaan lahan sawit.
Ia mengungkapkan bahwa curah hujan ekstrem menjadi faktor utama dalam kejadian tersebut.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 22-28 April 2026 Turun Rp131,78 per Kg
“Curah hujan mencapai 411 mm dalam 1–2 hari, yang biasanya terjadi dalam 2–3 bulan. Ini merupakan kejadian ekstrem yang menurut ahli hidrologi bisa terjadi 400–500 tahun sekali,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun hutan memiliki fungsi ekologis seperti meningkatkan infiltrasi dan menahan aliran permukaan, kapasitasnya tetap memiliki batas dalam kondisi cuaca ekstrem.
“Banjir adalah fenomena sistemik. Menyederhanakan penyebabnya hanya pada sawit tidak menyelesaikan akar masalah dan justru menyesatkan kebijakan,” tegasnya.
BACA JUGA: FORTASBI Ingatkan Petani Sawit Waspadai Kemarau 2026, Risiko Kebakaran Meningkat
Forum IEF 2026 menegaskan bahwa penyebaran informasi yang tidak berbasis data dapat merugikan industri strategis nasional, termasuk para petani sawit (smallholders).
Kesimpulan utama dari forum ini menyoroti pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami isu lingkungan, termasuk dalam menilai hubungan antara sawit dan bencana alam.
“Informasi berbasis emosi hanya akan menimbulkan kesalahan persepsi, sementara solusi nyata harus berbasis data dan hukum,” pungkas Sudarsono. (T2)
