InfoSAWIT, SUBULUSSALAM – Industri kelapa sawit selama ini identik dengan peran laki-laki di lapangan. Namun di Desa Gunung Bakti, Subulussalam, Aceh, stigma itu perlahan dipatahkan oleh Risniati Tarigan, sosok perempuan yang kini menjadi inspirasi dalam pengembangan sawit berkelanjutan berbasis Smallholders.
Berawal dari aktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga sekaligus pedagang tandan buah segar (TBS), Risniati justru menemukan panggilan yang lebih besar: membantu petani sawit rakyat meningkatkan cara bertani, memperbaiki kualitas hasil panen, dan membuka akses menuju sertifikasi keberlanjutan global.
Dalam kesehariannya, Risniati berinteraksi langsung dengan para pekebun swadaya. Dari sana, ia melihat berbagai persoalan klasik di lapangan, mulai dari pola pemupukan yang tidak terukur, teknik panen yang belum sesuai standar, hingga minimnya pemahaman tentang pengelolaan kebun yang efisien dan aman.
BACA JUGA: Smart SISKA 4.0 Bidik Efisiensi 50%, Teknologi AI dan IoT Siap Ubah Integrasi Sawit-Sapi
Alih-alih menerima kondisi itu sebagai hal biasa, Risniati memilih bergerak.
Ketika mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) melalui program Sawit Terampil, ia melihat peluang besar untuk membawa perubahan nyata. Pengetahuan yang diperoleh tidak ia simpan sendiri, melainkan dibagikan kepada para petani yang menjadi mitra pasoknya.
Langkah tersebut berkembang menjadi gerakan kolektif. Bersama dua pedagang lainnya melalui CV Perangin-Angin Group (PAG), Risniati mendampingi hampir 300 Smallholders yang mengelola sekitar 680 hektare kebun sawit agar menerapkan praktik budidaya yang lebih baik dan berorientasi keberlanjutan.
BACA JUGA: Limbah Abu Boiler Sawit Disulap Jadi Material Canggih, BRIN Bidik Masa Depan Energi Fleksibel
Hasilnya mulai terlihat. Produktivitas kebun membaik, kualitas TBS meningkat, dan kesadaran petani terhadap standar keselamatan kerja serta tata kelola kebun semakin kuat.
Keberhasilan itu kemudian berujung pada pencapaian besar: sertifikasi RSPO yang resmi diraih kelompok tersebut pada November 2025.
Namun bagi Risniati, pencapaian paling penting bukan hanya sertifikat, melainkan perubahan cara berpikir petani sawit rakyat.
BACA JUGA: BRI Serahkan 2 Bus Sekolah untuk Pelajar di Kebun Sawit Agrinas Palma Nusantara
“Saya bangga. Saya percaya perempuan bisa setara, berpendidikan, dan berhasil di sektor ini,” ungkapnya.
Sebagai perempuan, jalannya tidak selalu mudah. Dalam banyak forum dan pertemuan, ia kerap menjadi satu-satunya perempuan yang hadir. Keraguan dan rasa canggung sempat datang, tetapi ia memilih terus melangkah.
Kini, Risniati bukan hanya menjadi penghubung rantai pasok sawit rakyat, tetapi juga simbol perubahan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam seluruh mata rantai industri kelapa sawit—dari kebun, perdagangan, hingga kepemimpinan komunitas.
BACA JUGA: 33% Lebih Cerna, Produk ini Jadi Inovasi Pakan Sawit untuk Dongkrak Produktivitas Sapi
Dari Aceh, kisah Risniati memperlihatkan bahwa keberlanjutan sawit Indonesia bukan hanya lahir dari teknologi dan investasi, tetapi juga dari keberanian perempuan desa yang berani belajar, tumbuh, dan memimpin perubahan. (*)
