InfoSAWIT, JAKARTA – Kemandirian energi dinilai menjadi salah satu agenda strategis Indonesia di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap impor minyak mentah, solar, dan LPG. Dalam sesi diskusi PALMEX Jakarta 2026 mengenai biomassa sawit sebagai energi hijau terbarukan, para pembicara menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki sumber energi domestik besar yang berasal dari sektor perkebunan dan industri kelapa sawit nasional.
Para narasumber menilai, pemanfaatan biomassa sawit secara optimal dapat menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi tekanan devisa akibat impor energi fosil.
Prof. Agus Guntoro dari Universitas Trisakti menjelaskan, tantangan energi Indonesia saat ini semakin kompleks seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan energi nasional. Di sisi lain, cadangan energi fosil terus menurun dan ketergantungan terhadap energi impor masih tinggi.
BACA JUGA: Berakar pada Keberanian, Tumbuh dalam Kepercayaan Diri: Dari Rumah Menuju Sertifikasi
Menurutnya, keberlanjutan energi harus dipandang sebagai aset fundamental pembangunan nasional. Karena itu, Indonesia perlu mengembangkan berbagai sumber energi alternatif yang sesuai dengan karakter wilayah dan kebutuhan industrinya.
“Biomassa sawit sangat relevan untuk mendukung kemandirian energi di wilayah sentra sawit seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian Papua, karena sumber energinya tersedia berkelanjutan di lokasi yang sama dengan pusat konsumsi energi,” ungkap Prof. Agus Guntoro dalam sesi tersebut.
Ia menilai, pemanfaatan biomassa sawit bukan lagi sekadar isu energi alternatif, melainkan bagian dari strategi membangun kemandirian energi nasional berbasis sumber daya domestik.
BACA JUGA: Sawit Bisa Tampung 2 Juta Sapi, Pemerintah Siapkan Rp5 Triliun untuk 19 Klaster SISKA
Sementara itu, Dr. M. Windrawan Inantha atau kerap dipanggil Dr. Win dari CECT Sustainability Universitas Trisakti saat memoderatori sesi tersebut, memaparkan besarnya potensi biomassa sawit Indonesia yang saat ini telah tersedia dari aktivitas perkebunan dan pengolahan kelapa sawit.
katanya, Indonesia menghasilkan sekitar 208 juta ton metrik kering pelepah sawit per tahun, 51,6 juta ton tandan kosong, 14 juta ton cangkang sawit, 29,8 juta ton serat mesokarp, serta sekitar 144,5 juta meter kubik limbah cair pabrik kelapa sawit (POME).
“Pesan terpenting dari sesi ini adalah bahwa biomassa sawit bukan lagi cerita sampingan dalam sektor kelapa sawit,” ujar Dr. Win. “Biomassa sawit kini menjadi bagian dari keamanan energi, daya saing industri, dan kredibilitas keberlanjutan Indonesia,” tambahnya, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (11/5/2026).
BACA JUGA: Smart SISKA 4.0 Bidik Efisiensi 50%, Teknologi AI dan IoT Siap Ubah Integrasi Sawit-Sapi
Menurut Dr. Win, potensi tersebut bukan lagi sekadar proyeksi masa depan, melainkan sumber daya nyata yang sudah diproduksi setiap tahun oleh industri sawit nasional. Ia menilai tantangan berikutnya adalah mengubah volume biomassa tersebut menjadi nilai ekonomi melalui tata kelola, sertifikasi, dan pemanfaatan domestik yang lebih kuat.
Dari sisi industri, Dikki Akhmar dari APCASI menyebutkan bahwa biomassa sawit Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 50 juta ton metrik per tahun dengan potensi kontribusi hingga 15,74% terhadap kebutuhan listrik nasional apabila didukung kebijakan dan teknologi yang tepat.
Menurutnya, pemanfaatan biomassa sawit untuk kebutuhan listrik domestik, energi industri, dan panas proses harus menjadi prioritas nasional dibanding hanya berorientasi pada pasar ekspor.
