InfoSAWIT, SINGAPURA – Kencana Agri Limited (“Kencana” atau “Grup”) mencatat peningkatan signifikan pada kinerja operasional sepanjang tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025 (FY2025), dengan pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) dan minyak sawit mentah (CPO) dua digit dibandingkan tahun sebelumnya.
Merujuk keterangan resmi Kencana yang diterima InfoSAWIT, Jumat (6/3/2026), total area tertanam Grup, termasuk plasma, tetap stabil di 67.885 hektare pada FY2025, tidak berubah dibandingkan FY2024.
Produksi TBS meningkat 15,5% dari 680.478 metrik ton (MT) pada FY2024 menjadi 785.833 MT pada FY2025. Sementara itu, produksi CPO naik 14,6% dari 163.489 MT menjadi 187.295 MT.
BACA JUGA: Produksi TBS Naik 2% dan CPO Tumbuh 4%, IndoAgri Siapkan Ekspansi Kilang 450 Ribu MT per Tahun
“Total produksi TBS meningkat 15,5% dan produksi CPO naik 14,6% pada FY2025, didorong oleh peningkatan hasil panen di seluruh kebun Grup, khususnya di perkebunan Sulawesi yang terus mencatat perbaikan produktivitas dari tahun ke tahun,” ungkap manajemen dalam laporan tersebut.
Manajemen menambahkan bahwa kinerja produksi juga didukung oleh praktik agronomi yang lebih baik, efisiensi operasional, serta kondisi cuaca yang relatif kondusif di Indonesia sepanjang tahun.
Waspadai Gejolak Geopolitik dan Volatilitas Energi
Ketua Kencana, Henry Maknawi, menilai industri sawit Indonesia masih berada dalam lingkungan pasar yang menantang namun tetap suportif. Indonesia tetap menjadi produsen dan eksportir CPO terbesar dunia, dengan permintaan yang ditopang konsumsi pangan dan kebijakan mandatori biodiesel domestik.
BACA JUGA: Produksi Kedelai Brasil Direvisi Turun, Cuaca Buruk di Rio Grande do Sul Tekan Hasil Panen
“Kelompok usaha akan mempertahankan pendekatan yang disiplin dan adaptif dalam mengelola pengadaan, manajemen persediaan, dan profil risiko secara keseluruhan. Meskipun prospek operasional 2026 secara umum tetap konstruktif, ketidakpastian eksternal yang meningkat berpotensi menimbulkan fluktuasi pasar dalam jangka pendek,” ungkap Henry Maknawi.
Manajemen juga menyoroti bahwa dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan perkembangan di wilayah produsen minyak utama, dapat memicu volatilitas harga energi global. Fluktuasi harga minyak mentah dinilai berpotensi memengaruhi ekonomi biofuel, biaya logistik, serta sentimen pasar komoditas, yang pada akhirnya berdampak pada dinamika harga dan permintaan CPO.
Dengan strategi pengelolaan risiko yang lebih disiplin serta fokus menjaga margin dan stabilitas keuangan, Kencana optimistis dapat mempertahankan ketahanan operasional di tengah ketidakpastian global pada 2026. (T2)
