Dalam konteks itu, BRIN mendorong pemanfaatan agen hayati dan mikroba yang lebih ramah lingkungan sebagai bagian dari solusi pengelolaan penyakit tanaman, termasuk Ganoderma.
Pemanfaatan bakteri dan teknologi biologis, menurut Puji, tidak hanya berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia, tetapi juga membuka peluang pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan.
Ia menambahkan, berbagai program riset dan inovasi yang berjalan saat ini diharapkan dapat menghasilkan teknologi deteksi dini serta strategi pengelolaan penyakit yang lebih efektif dan aplikatif di lapangan.
BACA JUGA: SPKS: Petani Sawit Jangan Dijadikan Tumbal Kebijakan Ekspor Satu Pintu
“Salah satu harapannya adalah bagaimana riset dan inovasi ini benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencari solusi deteksi dini dan pengelolaan penyakit yang berkelanjutan sehingga tidak terus merugikan tanaman kelapa sawit,” katanya.
Puji juga menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam menghadapi persoalan Ganoderma, mulai dari lembaga riset, industri perkebunan, hingga pusat penelitian seperti PPKS.
Menurut dia, hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium, melainkan perlu dikomunikasikan lebih luas agar dapat dipahami dan diterapkan oleh para pemangku kepentingan di sektor sawit.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 29 Mei – 4 Juni 2026 Tertinggi Rp3.303,32/Kg
Karena itu, peran komunikasi publik dinilai semakin penting agar informasi terkait penyakit tanaman dan inovasi pengendaliannya dapat disampaikan secara lebih intensif, tepat, dan konstruktif.
“Harapannya riset yang dilakukan bisa berdampak dan memberikan kontribusi nyata, termasuk melalui komunikasi publik yang lebih baik sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara nasional,” tuturnya.
Dengan meningkatnya ancaman Ganoderma di berbagai sentra sawit, penguatan deteksi dini dan pengembangan teknologi pengendalian ramah lingkungan dipandang menjadi langkah strategis untuk menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan industri sawit Indonesia. (T2)
