Pertanian Regeneratif Petani Sawit Swadaya Berpotensi Turunkan Emisi Karbon

oleh -439 Kali Dibaca
Penulis: InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Dr. Yanto Rochmayanto saat memaparkan hasil kajian yang menunjukkan praktik pertanian regeneratif pada perkebunan sawit rakyat mampu meningkatkan karbon organik tanah (SOC) dan berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca, sekaligus memperkuat peran petani swadaya dalam mitigasi perubahan iklim.

INFOSAWIT, BOGOR – Praktik pertanian regeneratif yang mulai diterapkan petani kelapa sawit swadaya dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Penerapan pupuk organik, pemanfaatan limbah perkebunan, hingga pengurangan penggunaan bahan kimia terbukti mampu meningkatkan karbon organik tanah dan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Workshop dan Sosialisasi Hasil Studi dan Kajian “Bagaimana Petani Swadaya Kelapa Sawit Memimpin Produksi Rendah Emisi melalui Konservasi Hutan dan Praktik Pertanian Regeneratif” yang diselenggarakan Yayasan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) di Hotel Royal Padjajaran, Bogor, Kamis (25/6/2026), yang dihadiri InfoSAWIT.

Dalam kesempatan tersebut, peneliti Dr. Yanto Rochmayanto mempresentasikan hasil kajian bertajuk “Menakar Kontribusi Petani Swadaya dalam Mitigasi Perubahan Iklim melalui Skema Pertanian Regeneratif.” Kajian tersebut menyoroti peran petani sawit swadaya dalam mengurangi emisi melalui pengelolaan karbon organik tanah atau soil organic carbon (SOC).

BACA JUGA: FORTASBI Angkat Peran Petani Sawit dalam Pengurangan Emisi dan Perlindungan Hutan

Yanto menjelaskan bahwa petani swadaya saat ini memegang peran penting dalam industri sawit. Kelompok petani kecil menyumbang sekitar 40 persen produksi minyak sawit Indonesia. Di sisi lain, meningkatnya tuntutan pasar terhadap produksi sawit rendah emisi mendorong lahirnya pendekatan baru berupa pertanian regeneratif.

Menurutnya, pertanian regeneratif tidak hanya bertujuan mempertahankan produktivitas lahan, tetapi juga memulihkan fungsi ekologis, meningkatkan kesehatan tanah, memperbaiki keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan sosial ekonomi petani.

“Pertanian regeneratif menjadi pendekatan menuju beyond sustainability, yakni tidak hanya mempertahankan kondisi lingkungan, tetapi juga memperbaikinya,” jelas Yanto.

BACA JUGA: FORTASBI: Kelembagaan Petani Jadi Kunci Keberlanjutan dan Regenerasi Sawit

Penelitian dilakukan di dua wilayah sentra sawit rakyat, yakni Desa Bandar Rejo, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dan Desa Mekarsari, Kabupaten Tebo, Jambi. Kedua wilayah dipilih karena telah mulai menerapkan berbagai praktik pertanian regeneratif.

Di Sumatera Utara, penelitian dilakukan pada anggota KPUD Lestari yang memiliki sekitar 945 anggota petani. Sekitar 50 persen petani di kawasan tersebut telah mulai menerapkan pertanian regeneratif.

Sementara di Jambi, penelitian dilakukan pada anggota Perkumpulan Petani Sawit Rimbo Ulu (PPSRU) yang memiliki 1.421 anggota. Sekitar 40 persen petani di wilayah tersebut telah menerapkan praktik regeneratif.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Mulai Pulih, Kementan Klaim Mayoritas Perusahaan Sudah Sesuaikan Harga Pembelian

Praktik yang diterapkan meliputi penggunaan pupuk kandang, tandan kosong kelapa sawit (tankos), kompos, mulsa pelepah sawit, pemanfaatan limbah organik, serta pengurangan penggunaan herbisida dan pestisida kimia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan karbon organik tanah pada lahan yang menerapkan pertanian regeneratif cenderung lebih tinggi dibandingkan kebun konvensional.

Di Sumatera Utara, peningkatan SOC mencapai 6,03 persen. Rata-rata kandungan SOC pada lahan regeneratif mencapai 41,35 ton per hektare, sedangkan pada lahan kontrol sebesar 39 ton per hektare.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melorot Pada Kamis (25/6), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah Lagi

Sementara itu, di Jambi terjadi peningkatan SOC sebesar 2,09 persen. Perlakuan menggunakan tandan kosong kelapa sawit menunjukkan hasil terbaik dibandingkan penggunaan pupuk kandang.

Meskipun sebagian hasil belum menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik, Yanto menjelaskan bahwa perubahan karbon tanah memang membutuhkan waktu yang relatif panjang.

“Perubahan SOC berlangsung dalam skala waktu tahunan hingga puluhan tahun. Oleh karena itu, pengukuran jangka pendek sering kali belum mampu menunjukkan perubahan yang signifikan,” ujarnya.

BACA JUGA: SPKS: Sertifikasi Sawit Tingkatkan Produktivitas Petani, BPDP Didorong Perkuat Dukungan Pendanaan

Kajian tersebut memperkirakan peningkatan karbon tanah sebesar 1,35 hingga 2,35 ton karbon per hektare. Peningkatan tersebut setara dengan pengurangan emisi sekitar 4,94 hingga 8,62 ton karbon dioksida per hektare.

Menurut Yanto, apabila praktik regeneratif diterapkan secara lebih luas pada perkebunan rakyat, maka kontribusinya terhadap pengurangan emisi nasional akan menjadi sangat signifikan.

Selain memberikan manfaat terhadap mitigasi perubahan iklim, pertanian regeneratif juga dinilai mampu meningkatkan kesehatan tanah, memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik, menjaga kelembapan lahan, serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

BACA JUGA: Pertanian Regeneratif Dinilai Jadi Solusi Pemulihan Lahan dan Peluang Ekonomi Petani

Konsep ekonomi sirkular juga mulai berkembang di kalangan petani melalui pemanfaatan limbah organik, pupuk kandang, dan limbah kelapa sawit yang dikembalikan ke kebun sebagai sumber nutrisi.

Namun demikian, penerapan pertanian regeneratif masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan bahan organik, biaya implementasi yang relatif tinggi, lambatnya hasil yang dirasakan petani, serta minimnya pengetahuan dan akses pembiayaan menjadi kendala utama.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah dinilai masih lebih banyak mendorong penggunaan pupuk anorganik dibandingkan pengembangan sistem pertanian regeneratif.

BACA JUGA: Pabrik Sawit Tanpa Kebun Dinilai Ganggu Tata Niaga Sawit, Khawatir Kaburkan Keterlacakan Pasokan

Karena itu, penelitian merekomendasikan peningkatan edukasi dan pelatihan bagi petani, penguatan kelembagaan, pengembangan ekonomi sirkular, pemberian insentif, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan organisasi petani.

Yanto menegaskan bahwa petani sawit swadaya tidak hanya berperan sebagai produsen minyak sawit, tetapi juga dapat menjadi pelaku utama dalam mitigasi perubahan iklim.

“Petani sawit swadaya memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi perubahan iklim melalui pengelolaan karbon tanah dan penerapan praktik pertanian regeneratif yang berkelanjutan,” pungkasnya. (T2)


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com