Situasi tersebut berpotensi mengurangi fleksibilitas pasokan, khususnya bagi sektor ekspor yang diperkirakan menjadi segmen pertama yang mengalami penyesuaian volume.
Pelaku Pasar Masih Menunggu Peran DSI
Di sisi lain, kehadiran PT Daya Sawit Indonesia (DSI) sebagai bagian dari pembenahan tata niaga sawit nasional dinilai belum memberikan perubahan signifikan terhadap mekanisme perdagangan fisik CPO.
Menurut KPBN, sebagian besar pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see sembari menunggu arah kebijakan yang akan dijalankan DSI.
Reaksi kehati-hatian tersebut bahkan sempat memengaruhi aktivitas perdagangan setelah peluncuran DSI pada Mei lalu, ketika tender CPO KPBN mengalami kondisi withdrawn selama hampir enam hari akibat melemahnya minat pembeli.
Meski demikian, KPBN menilai DSI saat ini masih berada dalam tahap awal pengawasan sehingga belum mengubah struktur pasar secara fundamental. Peran yang lebih besar diperkirakan baru akan terlihat menjelang implementasi penuh kebijakan tersebut pada 1 Januari 2027.
Sentimen Global Masih Mendominasi
Untuk pergerakan harga dalam satu pekan ke depan, KPBN memperkirakan faktor eksternal tetap menjadi penentu utama arah pasar.
Selain kuatnya data ekspor Malaysia, dukungan juga datang dari penguatan bursa komoditas CBOT dan Dalian Commodity Exchange, yang menjaga sentimen bullish minyak nabati global.
Meski demikian, perusahaan tidak menutup kemungkinan terjadinya koreksi harga jangka pendek apabila produksi Malaysia kembali meningkat, sebagaimana tercermin dalam data SPPOMA, maupun akibat aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar setelah reli harga dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan kombinasi sentimen ekspor yang masih kuat, implementasi B50 yang segera dimulai, serta dukungan pasar global, harga CPO nasional diperkirakan masih memiliki ruang bertahan pada tren positif, meski volatilitas tetap membayangi perdagangan dalam jangka pendek. (T2)
