InfoSAWIT, JAKARTA – Menjelang implementasi mandatori biodiesel B50 pada Juli 2026, pasar minyak sawit Indonesia mulai diwarnai kombinasi sentimen domestik dan global. Meski tambahan kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkatkan konsumsi CPO di dalam negeri, PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) menilai pergerakan harga dalam jangka pendek masih lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan ekspor Malaysia.
Menurut PT KPBN, implementasi B50 memang mulai membentuk ekspektasi pasar terhadap kemungkinan berkurangnya stok CPO domestik akibat meningkatnya serapan sektor energi. Sentimen tersebut ikut menopang penguatan harga CPO sepanjang pekan ini.
Namun demikian, faktor yang paling dominan tetap berasal dari pasar internasional, terutama laporan ekspor minyak sawit Malaysia yang menunjukkan pertumbuhan signifikan.
BACA JUGA: Produksi dan Ekspor Sawit Indonesia Menguat, Nilai Ekspor Tembus US$3,38 Miliar pada April 2026
“Terdapat kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi stok domestik setelah implementasi B50. Namun penguatan harga CPO pekan ini lebih banyak didorong oleh data ekspor Malaysia,” jelas Kepala Bagian Bursa dan Pengembangan Bisnis PT Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), Andrial Saputra kepada InfoSAWIT, Selasa (30/6/2026).
Tiga lembaga survei ekspor Malaysia melaporkan kenaikan pengiriman yang cukup tinggi untuk periode 1–20 bulan berjalan. Intertek Testing Services (ITS) mencatat kenaikan ekspor sebesar 19,11 persen, AmSpec Agri Malaysia sebesar 24,95 persen, sementara Societe Generale de Surveillance (SGS) melaporkan lonjakan hingga 78,53 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Data tersebut dinilai menjadi katalis utama yang menjaga sentimen positif di pasar minyak sawit regional.
BACA JUGA: BRIN: Karbon Aktif dari Cangkang Sawit Miliki Prospek Cerah, Layak Dikembangkan di Pasar Domestik
B50 Diproyeksikan Tambah Konsumsi Hingga 1,74 Juta Ton CPO
Di sisi domestik, implementasi program B50 diperkirakan mulai mengubah struktur permintaan minyak sawit nasional. Berdasarkan estimasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), implementasi penuh program tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan CPO sekitar 1,5 juta hingga 1,74 juta ton per tahun.
Dengan tambahan tersebut, konsumsi CPO untuk sektor energi diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 16 juta hingga 19 juta ton per tahun.
PT KPBN menilai peningkatan konsumsi biodiesel akan memberikan tekanan terhadap alokasi CPO untuk pasar ekspor. Meski demikian, kebutuhan domestik untuk sektor pangan, khususnya minyak goreng, dipastikan tetap menjadi prioritas pemerintah.
BACA JUGA: KPPU Selidiki Dugaan Kartel Harga dan Potongan Timbangan TBS Sawit di Pesisir Selatan
“Pasokan minyak goreng dipastikan tetap terjaga karena pemerintah berorientasi memberikan dukungan penuh terhadap kebutuhan dalam negeri,” jelas Andrial.
Industri Hilir Bersiap Hadapi Pengetatan Pasokan
Dari sisi pasokan, KPBN mencatat stok CPO nasional berdasarkan pembaruan terakhir berada di kisaran 2,506 juta ton, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 2,026 juta ton. Peningkatan stok tersebut terjadi seiring melemahnya ekspor dan konsumsi domestik dalam periode sebelumnya.
Namun kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara. Memasuki semester kedua 2026, industri hilir diperkirakan menghadapi tantangan berupa pengetatan alokasi bahan baku karena produksi bulanan mulai melambat bersamaan dengan implementasi penuh kebijakan B50.
