Head of Trading and Hedging Strategies Kaleesuwari Intercontinental Ltd, Gnanasekar Thiagarajan, menyebut level tertinggi yang dicapai pada perdagangan Kamis dapat dipandang sebagai titik technical breakout bagi pasar.
Namun, kenaikan harga lebih lanjut masih dapat tertahan oleh penguatan nilai tukar ringgit Malaysia serta persaingan dengan harga minyak kedelai.
Ringgit yang menguat berpotensi membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Sementara itu, pergerakan harga minyak kedelai sebagai salah satu pesaing utama CPO juga menjadi faktor yang terus diperhatikan pasar.
BACA JUGA: BPDP Gandeng INSTIPER dan AKPY, Siapkan 1.010 Mahasiswa Lewat Beasiswa SDM Perkebunan 2026
Dengan kombinasi permintaan biodiesel yang meningkat, risiko El Niño terhadap produksi, menurunnya proyeksi stok global, hingga gangguan pasokan minyak nabati dari kawasan Laut Hitam, pasar CPO kini memasuki periode yang semakin sensitif terhadap perkembangan pasokan dan kebijakan energi.
Pelaku pasar pun akan terus mencermati dampak implementasi B50 Indonesia dan perkembangan kondisi cuaca di Asia Tenggara, yang berpotensi menentukan arah pergerakan harga CPO dalam beberapa bulan mendatang. (T2)
