Setelah memperhitungkan seluruh komponen tersebut, Kencana Agri membukukan laba bersih sebesar US$11,8 juta pada semester pertama 2026. Angka ini meningkat US$2 juta atau 20,6 persen dibandingkan laba bersih sebesar US$9,8 juta pada semester pertama 2025.
Pelemahan Rupiah Tekan Kinerja dalam Dolar AS
Kinerja Kencana Agri juga tidak terlepas dari pengaruh perubahan nilai tukar. Sebagian besar anak usaha operasional grup berada di Indonesia dan menggunakan rupiah sebagai mata uang fungsional, sementara laporan keuangan konsolidasian perseroan disajikan dalam dolar Amerika Serikat.
Sepanjang semester pertama 2026, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sekitar 5 persen, dari Rp16.425 per US$ pada semester pertama 2025 menjadi Rp17.251 per US$ pada semester pertama 2026.
BACA JUGA: I-EU CEPA Siap Buka Jalan Baru Ekspor Sawit Indonesia ke Eropa
Karena sebagian besar pendapatan dan biaya grup dicatat dalam rupiah, pelemahan kurs tersebut menekan nilai kinerja ketika dikonversi dan dilaporkan dalam dolar AS.
Menurut perhitungan perseroan, apabila rata-rata kurs tetap berada pada level semester pertama 2025, pendapatan Kencana Agri pada semester pertama 2026 diperkirakan dapat mencapai sekitar US$116,4 juta. Laba kotor berpotensi mencapai US$33,7 juta, sedangkan laba bersih diperkirakan berada di kisaran US$12,4 juta.
Dengan basis kurs konstan tersebut, pertumbuhan pendapatan diperkirakan mencapai sekitar 33,5 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan yang dilaporkan sebesar 27,1 persen. Pertumbuhan laba kotor diproyeksikan mencapai 19,4 persen, sementara pertumbuhan laba bersih dapat mencapai sekitar 26,7 persen.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 19–25 Agustus 2026 Naik, Usia 10–20 Tahun Rp3.917,50 per Kg
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa secara operasional pertumbuhan Kencana Agri pada semester pertama 2026 dinilai lebih kuat dibandingkan angka yang tercermin dalam laporan berbasis dolar AS. Ke depan, peningkatan produktivitas kebun, optimalisasi pabrik, serta pengelolaan biaya akan menjadi faktor penting bagi perseroan untuk menjaga pertumbuhan di tengah program peremajaan dan dinamika pasar minyak sawit. (T2)
