Jambi diperkirakan memiliki cakupan risiko menengah sekitar 33 persen. Risiko tinggi pada periode tersebut masih terkonsentrasi di Kalimantan Selatan sekitar 85 persen, diikuti Sulawesi Tenggara 57 persen, Nusa Tenggara Timur 54 persen, Kalimantan Tengah 47 persen, dan Sumatera Selatan 44 persen.
Pada November, risiko karhutla diprediksi semakin menurun dan kategori rendah mulai mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Risiko menengah dan tinggi menjadi lebih lokal, terutama di sebagian Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua Selatan, Lampung, Kalimantan bagian selatan, dan pesisir selatan Jawa.
BMKG mencatat risiko tinggi pada November diperkirakan paling luas berada di Sulawesi Tenggara sekitar 29 persen, Papua Selatan 18 persen, dan Nusa Tenggara Timur 15 persen. Tidak ada lagi provinsi dengan dominasi risiko tinggi seperti yang diprediksi terjadi pada September dan Oktober.
BACA JUGA: I-EU CEPA Siap Buka Jalan Baru Ekspor Sawit Indonesia ke Eropa
Bagi industri perkebunan kelapa sawit, prediksi tersebut menjadi peringatan untuk memperkuat langkah pencegahan sejak awal. Kesiapan personel, patroli rutin, pemantauan titik panas, pengelolaan tata air, serta koordinasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Dengan September diproyeksikan sebagai periode dengan risiko karhutla paling luas dalam tiga bulan ke depan, kewaspadaan di wilayah-wilayah rawan menjadi kunci agar kebakaran dapat dideteksi dan dikendalikan sejak tahap awal. (T2)
