Tentulah persoalan diatas merupakan faktor yang patut dilawan oleh pelaku industri sawit, dalam arti harus menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidaklah benar karena tidak memiliki dasar yang kuat. Tuduhan itu sengaja diciptakan dengan motif tertentu baik bagi pesaing atau bagi pihak-pihak luar yang punya kepentingan. Katkan saja dalam lingkup global, produk sawit sedang mengalami keterpurukan akibat citra negatif yang dimunculkan barat.
Menurut Cees Van Riel dan Charles Fombrun dalam buku Essenstial Corporate Communication, Komunikasi Perusahaan dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang termasuk dalam pengelolaan dan pengaturan segala komunikasi internal dan eksternal yang ditujukan untuk menciptakan titik awal yang menguntungkan dengan para pemilik kepentingan, tempat dimana perusahaan bergantung.
Merujuk pada definisi diatas, Corporate Communication berperan dalam bagaimana organisasi (perusahan) berkomunikasi dengan karyawan, pers, pelanggan atau masyarakat, pemerintah atau lembaga non pemerintah dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai perusahaan. Komunikasi perusahaan merupakan segala hal tentang mengelola persepsi dan memastikan efektif dan tepat waktu dalam penyebaran informasi, citra perusahan yang positif serta hubungan yang lancar dan sejalan dengan kepentingan stakeholder.
BACA JUGA: Pasang Plang Larangan Panen, Menyusul Mou Masyarakat Dengan Perusahaan Sawit Belum Final
Melihat kondisi komoditas sawit saat ini, pelaku industri sawit memerlukan citra dan reputasi positif untuk memperbaiki dan memenangkan persaingan. Dalam era informasi dan persaingan yang semakin meningkat ini dimana ditandai dengan akses mudah terhadap informasi dan media, corporate communication berperan penting dalam membangun image dan reputasi yang positif. Oleh karena itu Corporate Communciation telah menjadi aset signifikan untuk keberlangsungan suatu perusahaan.
Komunikasi yang dibangun oleh Corporate Communication bukan hanya kepada pihak luar, akan tetapi juga dilakukan ke dalam (internal perusahaan) untuk membanghun budaya kerja yang kondusif dan menciptakan efektivitas kerja sehingga visi dan misi perusahaan dapat diwujudkan dengan baik.
BACA JUGA: Kabupaten Anggota LTKL Serukan Kolaborasi Dalam Proses Mitigasi Bencana
Corporate Communication juga mempunyai tugas yang sangat sensitif, yakni menjaga kepuasan para stakeholders termasuk pemegang saham dan pemerintah. Corporate Communication bertanggungjawab terhadap pencegahan dan pemecahan krisis yang dapat mematikan perusahaan baik secara perlahan maupun cepat. Oleh karena itu Corporate Communication membutuhkan kedekatan dengan Pimpinan Puncak (CEO) sehingga kebijakan komunikasi yang dilakukan dapat sejalan dengan tujuan perusahaan. (*)
Penulis: Ahmad Rizalmi/Praktisi Komunikasi
