Kedua prestasi yang sekaligus, mampu diraih Indonesia ini, merupakan keunggulan yang berasal dari keunggulan minyak sawit itu sendiri. Pasalnya, produktivitas minyak sawit merupakan yang terbesar dibandingkan minyak nabati lainnya. Sehingga, perkebunan kelapa sawit, paling sedikit alias efisien dalam penggunaan lahan daratan untuk menghasilkan CPO.
Setiap hektar lahan darat yang digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit, mampu menghasilkan hingga 7 ton CPO/hektar/tahun dengan menggunakan benih unggul, melalui budidaya terbaik dan berkelanjutan. Tentu saja, berbagai prestasi nan gemilang yang mampu diraih CPO, menjadi ancaman bagi minyak nabati lainnya.
Dibandingkan dengan minyak kacang kedelai, yang hanya mampu menghasilkan minyak nabati sebesar 0,5 ton minyak kacang kedeli/hektar/tahun. Tak heran, bila perkebunan minyak kacang kedelai, hingga tahun ini, sudah menghabiskan lahan daratan hingga ratusan juta hektar di seluruh dunia.
BACA JUGA: Harga CPO Melonjak, Siapa Yang Untung?
Bagi kehidupan manusia, yang populasinya kian meningkat, minyak kacang kedelai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup populasi lainnya, termasuk manusia itu sendiri. Terlebih, beberapa tahun belakangan ini, dimana pertumbuhan perkebunan kelapa sawit kian tergencet, namun pertumbuhan perkebunan minyak kacang kedelai justru sebaliknya.
Tentunya, kondisi ini harus mendapat perhatian besar dari para pemangku kepentingan lainnya. Lembaga Swadaya masyarakat yang peduli akan sosial dan lingkungan, semestinya bersuara keras akan berbagai kerusakan yang disebabkan secara langsung dan tak langsung akibat pertumbuhan perkebunan minyak kacang kedelai.
Tentunya, era globalisasi juga yang akan membuat fakta ini semakin bertambah jelas. Siapa perusak lingkungan dan sosial terbesar di dunia? Ada yang tahu?…
Sawit Menjaga Planet Bumi
Fenomena pertumbuhan perkebunan yang menghasilkan minyak nabati di dunia menjadi sangat menarik. Pasalnya, sejak berhasilnya minyak sawit mentah (CPO) menduduki tahta sebagai raja minyak nabati dunia, berbagai serangan isu-isu sustainability sering ditujukan kepada perkebunan kelapa sawit.
BACA JUGA Mendorong Penguatan Petani Dan Pemberdayaan Perkebunan Kelapa Sawit
Hingga keberadaan moratorium tahun 2010 silam di Indonesia, yang pula berhasil memaksa penghentian akan perluasan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia bahkan di dunia. Namun, penghentian luasan lahan perkebunan kelapa sawit yang salah satunya bertujuan menyelamatkan paru-paru dunia itu, seolah tak berarti banyak.
Di beberapa negara di dunia, yang merupakan negara produsen minyak kacang kedelai, justru berlomba-lomba memperluas perkebunan kacang kedelai yang mereka miliki. Hanya dalam waktu beberapa tahun, pertambahan luasannya sebesar puluhan juta hektar. Total hingga tahun 2017 ini, luas perkebunan kacang kedelai sudah mencapai lebih dari 120 juta hektar.
Dari data LMC tersebut diatas, menggambarkan tren pertumbuhan luas lahan perkebunan minyak nabati di dunia. Jika lahan perkebunan kelapa sawit berhenti membesar, maka porsi pasokan minyak nabati akan diambil alih minyak kacang kedelai. Di sisi lain, lahan daratan yang digunakan sebagai kebun kacang kedelai akan terus membesar.
Seharusnya, perkebunanan kelapa sawit yang harus terus bertumbuh, supaya pasokan minyak nabati global akan terus terpenuhi, tanpa menggunakan luas lahan daratan dunia yang terlalu besar. Mampukah Sawit menjaga bumi? (*)
