InfoASAWIT, JAKARTA – Bisnis minyak sawit dunia kian melaju, lantaran kondisi ekonomi global kian mengalami keterpurukan ekonomi. Lemahnya daya beli masyarakat, disinyalir menjadi pemicu utama turunnya ekonomi makro dunia. Alhasil, beberapa negara cenderung memilih minyak sawit sebagai bahan baku minyak makanan dan non makanan untuk kebutuhan konsumsi masyarakatnya.
Di tengah tekanan ekonomi global yang terus berlanjut, industri minyak sawit justru menunjukkan performa yang semakin kuat. Lemahnya daya beli masyarakat dunia membuat banyak negara beralih ke pilihan yang lebih ekonomis, salah satunya adalah minyak sawit mentah (CPO), baik untuk kebutuhan pangan maupun non-pangan.
Minyak sawit telah menjadi bagian penting dari rantai pasok global selama lebih dari 40 tahun. Sejak dekade 1980-an, CPO mulai dilirik sebagai minyak nabati utama dunia, meski pada saat itu masih menghadapi perdebatan sengit terkait isu kesehatan, terutama dalam proses refinasi dan hidrogenasi.
BACA JUGA: Indonesia Dorong Perdagangan dengan India, Minyak Sawit Masih Jadi Andalan
Berdasarkan data Pusat Data Bisnis InfoSAWIT (PDBI), pada tahun 1980, produksi CPO global baru mencapai 3,4 juta ton. Indonesia, yang kala itu masih menjadi pemain kecil, hanya menyumbang sekitar 700 ribu ton atau sekitar 20 persen dari produksi dunia. Namun, perdebatan soal dampak kesehatan mulai meluas ke berbagai produk turunan CPO, seperti makanan, kosmetik, dan personal care, hingga memicu boikot konsumen yang dipicu oleh kampanye aktivis sosial.
Dari Isu Kesehatan ke Lingkungan
Memasuki era 1990-an hingga awal 2000-an, fokus perdebatan bergeser. Isu lingkungan dan konflik sosial di sekitar perkebunan kelapa sawit menjadi sorotan utama. Meski begitu, konsumsi global terhadap minyak sawit terus meningkat.
Pada periode ini, produksi CPO dunia melonjak menjadi 12,5 juta ton, dan kontribusi Indonesia meningkat signifikan menjadi 2,66 juta ton atau 21,28 persen dari pasar global. Tak hanya volume produksi yang meningkat, Indonesia juga mulai bergerak naik ke rantai nilai industri sawit.
BACA JUGA: Kerja Layak Masih Jadi PR Besar di Perkebunan Sawit Kalimantan Barat
Jika sebelumnya Indonesia hanya mengekspor CPO mentah, sejak 1990-an negara ini sudah mulai memproduksi minyak goreng sawit dan mengembangkan sektor oleokimia. Salah satu pelopornya adalah PT Cisadane Raya Chemicals, yang berdiri sejak 1975 dan mulai berkembang pesat di era 1990-an dengan kapasitas produksi 65.000 ton per tahun, sebagian besar diekspor ke Cina.
Industri sawit Indonesia pun terus bertumbuh, berfokus pada pengembangan produk minyak pangan dan non-pangan seperti stearic acid dan produk turunan oleokimia lainnya. Masa keemasan sawit di periode 2000-an hingga 2020-an menunjukkan pergeseran strategi dari komoditas ke produk bernilai tambah, dan tren ini diprediksi akan terus berlanjut.
