InfoSAWIT, JAKARTA – Minyak sawit yang sedang mengalami ketidakpastian pasar global dan bahaya laten akan turunnya produksi, mendapatkan respon kuat dari sinyal perdagangan internasional. Berbagai ketidakpastian yang terjadi, turut menyebabkan kenaikan harga jual minyak sawit dan berbagai produk turunannya di pasar global.
Ketidakpastian pasar global yang disebabkan adanya berbagai konflik di beberapa negara produsen minyak nabati dunia, menyebabkan turunnya produksi minyak nabati global dan terjadinya peralihan sumber bahan baku minyak nabati. Alhasil, beberapa industri minyak nabati dunia, beralih menggunakan CPO sebagai bahan baku alternatifnya dan menyebabkan meningkatnya permintaan pasar ekspor dari beberapa negara.
Meningkatnya permintaan pasar ekspor CPO, juga berasal dari kebutuhan masyarakat dunia yang kian bertambah. Pasalnya, kebutuhan minyak makanan yang berasal dari konsumsi suatu negara, mulai bergeser kepada minyak makanan yang berbahan baku CPO, lantaran inflasi di suatu negara tujuan ekspor menyebabkan turunnya daya beli masyarakat.
Sejalan turunnya daya beli masyarakat, juga menyebabkan turunnya produksi dari produsen CPO termasuk Indonesia. Pasalnya, bisnis agribisnis minyak sawit berasal dari perkebunan kelapa sawit yang sangat bergantung kepada kondisi iklim yang terjadi di suatu daerah.
Secara umum, kondisi iklim cuaca di Indonesia, mengalami perubahan drastis, dari iklim El Nina menjadi La Nina. Dari kurangnya curah hujan menjadi curah hujan yang berlimpah, dengan sinar terik matahari yang menurun. Cenderung terjadi bencana alam seperti banjir dan longsor hingga turunnya produktivitas hasil panen dari perkebunan kelapa sawit.
Namun, turunnya permintaan pasar global akibat berbagai faktor ketidakpastian ekonomi dunia masih lebih kecil, dibandingkan turunnya produksi CPO dari Indonesia, sehingga secara ekonomi mendorong harga jual CPO terus mendaki. Terlebih, akibat adanya konflik antara kedua negara di dunia, berpengaruh langsung terhadap produksi minyak nabati lainnya, sehingga turut mendorong naiknya permintaan pasar ekspor.
BACA JUGA: Dilema Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan
Kondisi yang dialami industri minyak sawit dan produk turunannya ini, menjadi fenomena baru akan fluktuasi harga CPO yang berujung kepada pasokan dan permintaannya. Sebab itu, kesiapan Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia, membutuhkan strategi jitu, guna keberlangsungan bisnis CPO dan produk turunannya di masa depan. (*)
Penulis: Ignatius Ery Kurniawan/ Pemred Media InfoSAWIT
