InfoSAWIT, JAKARTA — Malaysia kembali mencatat pencapaian penting dalam perdagangan internasional dan pengakuan atas keberlanjutan industri sawitnya. Pada 23 Juni 2025, negara tersebut resmi menandatangani Malaysia-European Free Trade Association Economic Partnership Agreement (MEEPA) bersama dengan negara-negara anggota EFTA, yakni Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein.
Perjanjian ekonomi ini bukan hanya memperkuat hubungan dagang antara Malaysia dan negara-negara EFTA, tetapi juga mempertegas posisi Malaysia sebagai pemimpin dalam produksi sawit berkelanjutan. Salah satu poin utama dari kesepakatan tersebut adalah pemberian tarif preferensial untuk produk sawit Malaysia yang bersertifikat Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), dengan skema tarif kuota yang memungkinkan pemotongan tarif impor antara 20% hingga 40% tergantung jenis produk.
Pengakuan terhadap MSPO sebagai prasyarat utama untuk memperoleh tarif preferensial menjadi sinyal kuat bahwa standar keberlanjutan nasional Malaysia kini semakin diakui di panggung global. Dengan MSPO sebagai landasan, eksportir sawit Malaysia memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar EFTA dengan tarif yang lebih bersaing.
BACA JUGA: Pekebun Sawit Batubara Kunjungi Kebun SIPEF dalam Program Pelatihan BPDP, Belajar dari yang Terbaik
Sebagai bagian dari perjanjian ini, Malaysia dan negara-negara EFTA juga menyepakati Joint Statement on Sustainable Palm Oil, sebuah deklarasi bersama yang memperkuat kepercayaan internasional terhadap rantai pasok sawit Malaysia yang bersertifikat dan bebas deforestasi.
MEEPA disebut memberikan tiga manfaat strategis bagi industri sawit Malaysia. Pertama, memberikan pengurangan tarif bagi produk bersertifikat MSPO. Kedua, mengukuhkan MSPO sebagai standar nasional yang diakui internasional. Ketiga, memperkuat komitmen transparansi, keterlacakan, dan pasokan yang bebas dari deforestasi.
Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, YB Dato’ Seri Johari Abdul Ghani, menyatakan bahwa MEEPA menjadi tonggak penting yang juga akan menjadi acuan dalam perundingan Free Trade Agreement (FTA) antara Malaysia dan Uni Eropa.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 25 Juni-1 Juli 2025 Turun Tipis
“Perjanjian ini menjadi referensi penting dalam posisi Malaysia pada negosiasi FTA dengan 27 negara anggota Uni Eropa,” ujar Johari dalam pernyataan resmi ditulis InfoSAWIT, Jumat (27/6/2025). Lebih lanjut kata Johari, Kementerian juga akan terus bekerja erat dengan Kementerian Investasi, Perdagangan dan Industri (MITI) untuk memastikan bahwa kepemimpinan Malaysia dalam keberlanjutan. “Khususnya melalui MSPO, tercermin dan dilindungi dalam semua perjanjian dagang ke depan, termasuk dengan Uni Eropa,” ungkap Johari.
Dengan pengakuan resmi atas MSPO, industri sawit Malaysia dari skala kecil hingga besar diperkirakan akan semakin kompetitif di pasar global yang kini makin menuntut keberlanjutan. Tak hanya membuka akses pasar, tetapi juga menempatkan Malaysia dalam posisi strategis dalam perdagangan produk berbasis sawit yang bertanggung jawab secara lingkungan.
MEEPA sekaligus mempertegas komitmen Malaysia terhadap perdagangan produk sawit yang berkelanjutan, bertanggung jawab, dan bebas deforestasi — sebuah pendekatan yang kini menjadi keharusan dalam pasar global, terutama di kawasan Eropa.
Langkah ini menunjukkan bahwa Malaysia tidak hanya menjaga eksistensi komoditas sawit sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga mengarahkan industri ke jalur yang semakin hijau dan bertanggung jawab terhadap masa depan lingkungan. (T2)
