InfoSAWIT, BANDUNG – Perkebunan kelapa sawit kembali menyimpan paradoks. Di satu sisi, Indonesia dikenal sebagai produsen sawit terbesar di dunia dengan lahan mencapai 17,3 juta hektare dari total izin seluas 20,5 juta hektare. Di sisi lain, produktivitasnya masih jauh dari potensi yang seharusnya bisa dicapai. Inilah akar masalah yang menyebabkan petani dan pelaku usaha sawit belum sepenuhnya merasakan kemakmuran.
Potensi yang Hilang Triliunan Rupiah
Produksi rata-rata sawit nasional saat ini hanya sekitar 3 ton minyak sawit per hektare per tahun atau total 50 juta ton secara nasional. Padahal, dengan varietas hibrida dan perawatan yang tepat, produktivitas bisa mencapai 11 ton per hektare. Artinya, ada celah produksi hingga 102–130 juta ton yang hilang setiap tahun.
Jika dihitung dengan harga patokan Rp14.000 per kilogram, nilai kehilangan itu setara Rp1.428–1.820 triliun, hampir separuh dari APBN. Dana sebesar itu seharusnya bisa beredar di 26 provinsi sentra sawit, memberi tambahan rata-rata Rp58 triliun per provinsi. Angka yang tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
BACA JUGA: Satgas PKH Kembalikan 674 Ribu Hektare Lahan Hutan ke Negara
Subsidi sebagai Investasi
Kuncinya ada pada pemupukan. Sawit hibrida rakus nutrisi, sehingga butuh 18 juta ton pupuk per tahun dengan nilai Rp90 triliun. Jika pemerintah memberikan subsidi pupuk, dana itu akan kembali ke kas negara dalam bentuk pajak dan perputaran ekonomi, bahkan bisa melipatgandakan hingga Rp200 triliun. Dengan kata lain, subsidi bukan beban, melainkan investasi strategis.
Sayangnya, kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Banyak perkebunan besar swasta (PBS) yang justru abai. Pemupukan tidak dilakukan, jalan produksi dibiarkan rusak, panen seadanya, bahkan ada kebun yang dibiarkan mangkrak lalu diperjualbelikan. Akibatnya, pajak dan kontribusi terhadap negara ikut menurun.
Kondisi Perkebunan Rakyat yang Memprihatinkan
Perkebunan rakyat tak kalah memprihatinkan. Banyak kebun tidak pernah dipupuk, gulma dibiarkan, hingga panen hanya bisa dilakukan di pinggiran kebun karena jalan dalam rusak parah. Produktivitas tandan buah segar (TBS) nasional pun hanya sekitar 13 ton per hektare, menghasilkan 2,78 ton minyak per hektare. Padahal, di lahan percobaan, potensi bisa mencapai 11 ton per hektare.
BACA JUGA: Kerja Layak Masih Jadi PR Besar di Perkebunan Sawit Kalimantan Barat
Akibat manajemen panen dan perawatan yang buruk, banyak TBS jatuh kualitasnya: buah terlalu matang, ukurannya kecil, atau bahkan masih ditemui varietas Dura yang rendah rendemen. Semua ini membuat produktivitas dan keuntungan turun drastis.
Saatnya Pemerintah Bertindak
Sudah waktunya pemerintah turun tangan serius. Perlu program intensifikasi besar-besaran, termasuk pemberian pinjaman lunak bagi petani rakyat maupun PBS yang kesulitan modal. Pemerintah juga bisa mempertimbangkan untuk melimpahkan PBS yang tidak terurus kepada BUMN dengan manajemen yang lebih baik.
