“Tempat belajar sangat situasional, kadang-kadang kami harus mencarinya di kebun-kebun sawit, karena biasanya anak-anak tersebut bermain-main di bawah pohon sawit. Paling banyak kami belajar di kebun agar orang tua mereka juga bisa mengawasi prosesnya,” ungkap Pak Joko seraya bercerita.
Lebih lanjut tutur dia, sebelumnya kegiatan mengajar anak-anak Orang Rimba dilakukannya dengan beberapa temannya dari Dinas Sosial Kabupaten Merangin, dan juga dari pihak Provinsi. Namun kini hanya dirinya saja yang berasal dari Desa terdekat dengan Taman Nasional Bukit 12.
“Dulu ada teman yang mengajar dari Desa Mekar Jaya, tapi dia sudah resign. Tapi saya putuskan untuk tetap lanjut mengajar. Jika melihat gaji yang diberikan oleh Dinas Sosial yang hanya Rp 700.000/Bulan tentu tidak sebanding dengan yang kami lakukan,” katanya.
BACA JUGA: Gubernur Riau di Desak Jelaskan Nasib Satgas Tim Terpadu Razia Kebun Ilegal
Keputusan tetap mengajar diambil, tak lain lantaran murni panggilan hati untuk mencerdaskan anak-anak di sekitar desanya. Kata Pak Joko, kendati mereka adalah Orang Rimba, tetapi mereka juga memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
