InfoSAWIT, JAKARTA – Pada awal Juni 2023 harga sawit di Provinsi Sumatera Selatan, sebagai salah provinsi penghasil minyak Sawit di Indonesia, harga rata-ratanya mengalami penurunan, kejadian ini dipengaruhi dari penurunan harga referensi minyak sawit mentah (CPO) dampak dari menurunnya permintaan minyak kelapa sawit dunia.
Menyusul membanjirnya pasokan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai dan biji bunga matahari, termasuk dipengaruhi adanya pembebasan bea masuk minyak kedelai dan minyak bunga matahari oleh India.
“Akibatnya permintaan CPO dari India merosot sampai 30% terendah dalam delapan bulan terakhir,” kata Analis PSP Ahli Madya Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, H Rudi Arpian kepada wartawan, belum lama ini.
BAC JUGA: Derom Bangun Luncurkan Buku Baru, Sumbang Inspirasi dan Pembelajaran Bagi Sawit di Indonesia
Bahkan, secara Nasional ekspor CPO Indonesia pun turun drastis. Negara tujuan yang banyak mengurangi impor nya antara lain Tiongkok turun hingga 242,8 ribu ton; diikuti Mesir dan Timur Tengah (-129,4 ribu ton); Bangladesh (-50,5 ribu ton); India (-68,3 ribu ton); serta Belanda (-54,9 ribu ton).
“Kenaikan ekspor terjadi untuk tujuan Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Rusia, dan Pakistan,” kata Rudi menambahkn.
Sementara di dalam negeri Produksi minyak kelapa sawit terus meningkat seiring telah berlalunya masa trek kelapa sawit (yang dimaksud dengan masa trek adalah sebuah musim ketika perkebunan dan lahan tidak menghasilkan hasil panen seperti biasanya, Hasil berondolan dan buah menurun drastis, bahkan tidak menghasilkan buah sama sekali).
BACA JUGA: Perempuan di Sawit Kerap Hadapi Ketidakadilan Gender, Dianggap Tidak Ada
“Produksi meningkat sementara ekspor menurun, inilah menjadi salah satu penyebab turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani,” kata Rudi.
Sebab itu, ada setitik harapan untuk memacu harga sawit, Pemerintah berencana membentuk harga acuan sendiri untuk minyak sawit mentah (CPO). Selama ini Indonesia sebagai produsen terbesar CPO di dunia, tetapi Industri sawit dalam negeri malah mengacu pada kedua bursa utama MDEX di Malaysia dan Rotterdam di Belanda.
“Dengan adanya harga acuan sendiri diharapkan dapat mempermudah pengusaha, meningkatkan efisiensi dan transparansi, sehingga bisa memainkan peranan yang lebih penting dalam dunia perkelapasawitan global,” tandas Rudi. (T2)
