InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah di Bursa Malaysia dibuka lebih tinggi pada Senin, (25/9/2023), mengikuti tren kenaikan harga minyak nabati lainnya di Bursa Dalian, serta didorong adanya pelemahan mata uang ringgit.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Desember 2023 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM 27 per ton, atau terdapat kenaikan sekitar 0,73%, menjadi RM 3,708 (US$ 791,80) per metrik ton di awal perdagangan. Sebelumnya dalam seminggu harga kontrak minyak sawit turun 2,75%.
Sementara harga kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian berkode DBYcv1, naik 1,14%, sementara harga kontrak minyak sawit berkode DCPcv1 meningkat 1,27%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,4%.
BACA JUGA: Pemprov Kalsel Bersama Disbunnak Barito Kuala Percepat Petani Sawit Peroleh STDB
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lain, lantaran mereka bersaing untuk memperoleh pangsa pasar minyak nabati global.
Dilansir surveyor kargo Intertek Testing Services mencatat, ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1-20 September naik 2,4% dibanding Agustus pada periode yang sama. Sementara, perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia, mencatat ekspor pada periode yang sama naik 1,8%.
Nilai tukar mata uang Ringgit= MYR, mata uang perdagangan sawit, melemah terhadap dolar AS, menjadikan minyak sawit lebih menarik bagi pemegang mata uang asing.
BACA JUGA: Peringatan Hari Tani Ke 63: Petani Masih Sebagai Objek Pengusaha Sawit
Refinitiv Commodities Research, memprediksi tren kekeringan yang memburuk akan terjadi pada Oktober di Indonesia, selaku produsen minyak sawit terbesar di dunia. (T2)
