InfoSAWIT, JAKARTA – Dengan prospek permintaan minyak & lemak yang lebih baik di China, permintaan minyak sawit dipastikan juga akan pulih dari 5,39 juta ton (Palm Oil/PO dan hydrogenated palm stearin/HPS) yang tercatat pada tahun 2022. Dimana Oil World memperkirakan output CPO akan meningkat sebesar 3,22 juta ton pada 2022/23, akan tersedia lebih banyak minyak sawit untuk ekspor dari dua produsen utama pada 2023.
Dengan perbedaan harga antara Palm Olein (PL) dengan Soybean Oil (SBO) yang diperkirakan mencapai sekitar RM 1.500 (US$ 220/ton) di China, PL akan tetap menarik untuk menggantikan SBO dalam berbagai aplikasi pengolahan makanan.
Hal ini juga akan didorong oleh prospek bahwa sektor katering akan pulih dari kemerosotan yang dialami pada tahun 2022, dan setidaknya meningkatkan permintaan minyak & lemak dengan tambahan 20%, dengan tingkat pendapatan tahunan yang sesuai dengan tingkat pra-Covid 2019.
BACA JUGA: Baru 0,2 Persen Petani Sawit Penerima Sertifikat ISPO
Catat Desmond Ng dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), tanda positif lainnya yang akan mengangkat permintaan PO di China, adalah adanya kebijakan substitusi dan penggantian bungkil kedelai menjadi pakan ternak juga perlahan mulai terlihat dampaknya terhadap kegiatan penghancuran kedelai.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian dan Pedesaan dan LSM, diperkirakan volume penghancuran kedelai hanya akan meningkat sebesar 4,0 juta ton. Ini akan menghasilkan tambahan 720 ribu ton minyak kedelai yang diproduksi pada 23/2022.
BACA JUGA: Bursa CPO, Harapan Baru Bagi Petani Sawit Dalam Ketidakpastian Harga
Namun, dengan pasokan minyak biji bunga matahari (SFO) yang masih terbatas tahun ini, minyak rapeseed dan minyak kedelai akan mengisi kekosongan, lantaran rendahnya impor SFO di pasar China, dan ini akan memberi potensi peningkatan bagi minyak sawit di Tiongkok. (T2)
