InfoSAWIT, JAKARTA – Mengingat kondisi cuaca selama enam bulan terakhir, nampaknya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), tidak akan mampu mencapai target produksi untuk tumbuh 10% per tahun sebagaimana pernah disampaikan pada awal tahun ini, walaupun terdapat perkiraan perspektif pertumbuhan yang menguntungkan pada kuartal ketiga.
Diungkapkan Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis PT Cisadane Sawit Raya Tbk., Seman Sendjaja, CSRA telah mengambil langkah proaktif dalam persiapan menghadapi El Nino, termasuk perencanaan pengelolaan air serta antisipasi kebakaran lahan di seluruh kebun Perusahaan. “Dalam hal ini Perusahaan mengimplementasikan strategi worst-case scenario sambil berharap untuk hasil yang terbaik,” katanya dalam keterangan resmi diperoleh InfoSAWIT, Selasa (31/10/2023).
Lebih lanjut kata Seman, saat ini, langkah pengembangan strategis yang dilakukan Perusahaan adalah fokus untuk mengembangkan region Sumatera Selatan. Program investasi yang berhubungan dengan ekspansi di region Sumatera Selatan berjalan secara berkelanjutan, yang bila dilihat selama setahun terakhir, perkebunan Perusahaan di Banyuasin mengalami peningkatan area tertanam, meningkat dari 2.989,8 hektar menjadi 3.422,8 hektar pada akhir Juni 2023 yoy.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Turun 0,58 Persen Pada Selasa (31/10)
Selain peningkatan area, produksi dari region Sumatera Selatan juga meningkat pesat dari 29.211 ton menjadi 39.637 ton per Juni 2023 yoy. Perusahaan juga melakukan berbagai investasi untuk meningkatkan produktivitas yaitu memperbaiki akses jalan internal kebun serta membangun perumahan layak huni bagi para pekerja dan staf.
Sebagai komoditas, harga CPO sangat terpengaruh oleh kondisi supply dan demand secara global. ASP CPO telah mengalami tren kenaikan harga yang sangat tinggi sejak awal tahun 2020 sampai dengan Maret 022, mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Namun kini harga CPO mulai turun ke harga keekonomian nya, walaupun ada kemungkinan kembali naik pada semester kedua tahun ini yang diakibatkan oleh hambatan pada rantai pasok akibat datang nya El Nino.
Pada semester kedua, strategi Perusahaan fokus pada peningkatan yield dari tiap kebun guna mengamankan level produksi internal serta mengimplementasikan strategi harga. Targetnya adalah untuk mencapai target yang ditetapkan serta memastikan keberlanjutan usaha. Perusahaan juga tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan memperkuat manejemen risiko.
BACA JUGA: DSNG Bukukan Pendapatan Rp 6,6 Triliun Selama Kuartal III 2023
Menyikapi kondisi perekonomian juga mempengaruhi harga CPO, Perusahaan tetap waspada dengan kondisi pasar yang berfluktuasi. Perusahaan juga terus melanjutkan pengembangan teknologi nya melalui mekanisasi panen serta melanjutkan proses sertifikasi ISPO terhadap kebun yang belum tersertifikasi. Proses sertifikasi ISPO saat ini sedang berlangsung di kebun PT SSG dan PT ABI yang merupakan bagian dari region Sumatera Selatan. (T2)
