Penelusuran faktor – faktor terkait pencurian TBS sawit pun menjadi penting untuk mengatasi tantangan tersebut, karena tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga berpotensi memakan korban jiwa di masyarakat karena pencurian merupakan perbuatan kriminal.
Kasus pencurian TBS sawit tidak hanya berdampak pada kehilangan materi perusahaan, melainkan juga menimbulkan masalah sosial yang menghambat operasional perusahaan. Faktor utama yang mendorong tindakan kriminal ini adalah kemudahan dalam mendapatkan uang secara cepat dan cash, membuatnya menjadi daya tarik yang sulit untuk diabaikan.
Proses penanganan TBS sawit, mulai dari penimbangan hingga pengiriman ke pabrik, memberikan peluang bagi tindakan pencurian. Banyak masyarakat yang membuka tempat penampungan TBS (Peron/Ram), dilengkapi dengan fasilitas seperti jembatan timbang, armada pengangkutan, dan Delivery Order (DO) untuk pengiriman ke pabrik.
BACA JUGA: Inisiatif RSPO di Indonesia, Percepat Praktik Sawit Berkelanjutan Libatkan Petani dan Sejumlah Pemda
Peron atau RAM ini menerima TBS sawit dari berbagai sumber, termasuk TBS sawit perorangan, TBS Sawit dari kawasan hutan, bahkan TBS sawit hasil pencurian, tanpa memperhatikan sumbernya. Setelah menerima TBS sawit, lalu disortir dan menjualnya kembali ke Pabrik Kelapa Sawit, TBS yang dikirim ke Peron / RAM selalu menerima pembayaran secara tunai. Peron yang memiliki DO Pabrik kelapa sawit telah terikat perjanjian pola pengiriman TBS sawit ke pabrik, dan mereka memperoleh keuntungan dari fee per kilogram TBS sawit yang mereka terima dari masyarakat. (*)
Penulis: Edwin Leonardo Armay/ Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit
