SNPI 2024: Berikut Tiga Cara Replanting Sawit, Mana Lebih Efisien

oleh -18280 Dilihat
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. Sawit Fest 2021/ Foto: Apriliagoverty/Ilustrasi peremajaan sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Regional Head Plantation PT Sampoerna Agro Tbk, Eldi Nuzan, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dan strategi replanting kelapa sawit di Indonesia. Dengan luas lahan kelapa sawit mencapai 16,3 juta hektar, kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas tanaman sawit semakin mendesak.

“Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya tenaga kerja dan biaya untuk kebutuhan pengelolaan kebun sawit lainnya,” kata Eldi saat menjadi pembicara pada acara SNPI 2024 yang bertajuk “Penerapan Inovasi Terkini Untuk Meningkatkan Produktivitas Kelapa Sawit dan Menuju Sawit Baik,” ditulis Kamis, (16/5/2024) yang dihadiri InfoSAWIT di Jakarta.


Lebih lanjut tutur Eldi, tantangan utama dalam replanting kelapa sawit adalah keragaman umur tanaman yang mengharuskan adanya replanting atau penanaman kembali. Saat ini, tingkat pencapaian replanting hanya mencapai 30 persen dari target 1,1 juta hektar, atau sekitar 300 ribu hektar. Disparitas ini sebagian besar disebabkan oleh masalah legalitas lahan yang dihadapi petani serta ketersediaan bibit yang terbatas.

BACA JUGA: SNPI 2024 Resmi Digelar, Sejumlah Isu Lapangan Perkebunan Sawit Dibahas

“Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit antara lain genetik tanaman yang menyumbang 30 persen dan penggunaan pupuk yang berkontribusi sekitar 60 persen. Oleh karena itu, kontrol yang baik terhadap faktor-faktor ini sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas,” katanya.

Terlebih proses replanting memiliki keunggulan dibandingkan dengan new planting karena infrastruktur dan teknik kultur sudah tersedia. Replanting juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas minyak sawit mentah (CPO) lebih tinggi dibandingkan dengan new planting.

Sebenarnya, kata Eldi, terdapat beberapa metode replanting yang digunakan, antara lain chipping, burial system, dan kombinasi keduanya. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

BACA JUGA: SNPI 2024: Pentingnya Industri Kelapa Sawit dalam Perekonomian Indonesia

Misalnya metode Chipping Serak, pada awalnya, metode chipping serak yang diaggap paling efisien, dengan biaya sekitar Rp 6 juta per ha, namun berpotensi memunculkan hama penyakit orcytes dll.

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com