Program Biodiesel Sawit B100, Bukan Mimpi

oleh -21.957 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Memet Hakim - Pengamat Sosial dan Wanhat APIB.

Arifin Tasrif, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap kemungkinan sukses program B100. Salah satu hambatan utama yang dilihat adalah produktivitas rendah dari sektor minyak sawit nasional. Menurutnya, untuk mencapai ambisi tersebut, diperlukan peningkatan yang signifikan dalam produktivitas minyak sawit, seimbang dengan ketersediaan bahan baku dan permintaan pasar yang dinamis (Kompas.com, 16 Mei 2024).

Sikap pesimis juga diperkuat oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), yang mengkhawatirkan potensi defisit minyak sawit akibat kebijakan ini. Dia mengungkapkan bahwa dengan penerapan B50 saja, Indonesia sudah mengalami defisit hingga 1,2 juta ton CPO, mengancam potensi devisa negara dari ekspor (Detik.com, 27 Mei 2024).

Namun, Kementerian Pertanian melangkah lebih maju dengan melakukan uji coba B100 sejak beberapa tahun lalu. Amran Sulaiman, Menteri Pertanian saat itu, bersikeras bahwa biofuel adalah masa depan yang lebih ramah lingkungan dan efisien dibandingkan diesel konvensional. Dalam uji coba awal, diketahui bahwa penggunaan B100 dapat meningkatkan efisiensi kendaraan hingga 13,1 kilometer per liter, melebihi solar yang hanya mencapai 9,6 kilometer per liter (Katadata.co.id, 15 April 2019).

BACA JUGA: Anggota Komisi VI: Dana BPDPKS Condong Untuk Biodiesel, PTPN Pemilik Sawit Terluas, Belum Peroleh Manfaat Maksimal   

Kualitas bio-solar yang dihasilkan dari minyak nabati (CPO) juga telah terbukti lebih baik daripada diesel fosil, dengan nilai angka setan yang lebih tinggi, meningkatkan kinerja mesin. Bahan bakar ini juga mendukung diversifikasi energi nasional, mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang mahal dan tidak ramah lingkungan.

Sektor perkebunan, termasuk petani kelapa sawit dan industri biodiesel, melihat program ini sebagai peluang besar. Dengan peningkatan produktivitas sebesar 60-65%, potensi laba mereka dapat melonjak hingga 100%. Selain itu, implementasi program ini diharapkan dapat menghemat devisa negara hingga triliunan rupiah setiap tahunnya dari pengurangan impor minyak fosil dan ekspor biofuel (Detik.com, 27 Mei 2024).

Untuk mewujudkan ambisi ini, kerjasama antara pemerintah, pengusaha, dan petani sangatlah vital. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan produksi CPO secara signifikan dan menyesuaikan infrastruktur dan regulasi yang mendukung.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 0,52 Pada Rabu (26/6), Demikian Pula di Bursa Malaysia

Meskipun tantangan besar masih menghadang, visi untuk mengadopsi biofuel sebagai bagian dari strategi energi nasional adalah langkah yang tepat menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, program B100 dan biofuel lainnya bisa menjadi pendorong utama bagi kemajuan ekonomi dan lingkungan negara ini.

Penulis: Memet Hakim/ Senior Agronomist, Konsultan, Dosen LB Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com