InfoSAWIT, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap artikel terbaru yang dipublikasikan oleh Reuters melalui platform Context. Artikel yang ditulis oleh Adi Renaldi, koresponden Asia Tenggara untuk Thomson Reuters Foundation, dianggap memberikan pandangan yang tidak adil dan berpotensi merusak citra industri kelapa sawit Indonesia. Artikel tersebut mengangkat isu lingkungan, perubahan iklim, dan penggundulan hutan yang dikaitkan dengan industri kelapa sawit, namun dinilai bias dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Dalam tulisannya yang berjudul “Bagaimana industri kelapa sawit Indonesia memicu krisis iklim?”, Renaldi menyoroti dampak ekspansi perkebunan kelapa sawit terhadap hutan hujan Indonesia serta kontribusinya terhadap emisi karbon global. Ia mengutip data dari Global Forest Watch dan Nusantara Atlas yang mengklaim bahwa Sumatra dan Kalimantan telah kehilangan sebagian besar hutan tropisnya akibat perluasan perkebunan sawit. Selain itu, artikel tersebut juga mengaitkan produksi biodiesel berbasis kelapa sawit dengan peningkatan emisi karbon, menyebutkan bahwa biofuel dari sawit lebih berbahaya dibanding bahan bakar fosil.
Menanggapi artikel tersebut, Ketua Bidang Kampanye Positif GAPKI, Edi Suhardi, menolak klaim yang disampaikan oleh Reuters. Menurut Edi, artikel tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman mengenai undang-undang kehutanan di Indonesia. “Budidaya kelapa sawit baru hanya dapat dikembangkan di Area Penggunaan Lain (APL), yaitu di luar kawasan hutan yang ditetapkan pemerintah. Dengan demikian, pengembangan kelapa sawit tidak dapat dikategorikan sebagai deforestasi,” tegas Edi dikutip InfoSAWIT, dari CSPO Watch, Senin (23/9/2024).
GAPKI juga menyoroti pentingnya minyak kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Edi menjelaskan bahwa 41 persen dari perkebunan kelapa sawit di Indonesia dimiliki oleh petani kecil, yang tentu saja tinggal di sekitar perkebunan. “Industri ini memberikan pekerjaan kepada sekitar 17 juta orang, mulai dari sektor pertanian hingga pengolahan dan administrasi. Namun, Reuters tampaknya mengabaikan fakta tersebut,” lanjut Edi.
Selain itu, GAPKI juga menegaskan bahwa minyak kelapa sawit berperan penting dalam upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui penggunaan biofuel. Indonesia, sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia, telah berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan biodiesel berbasis sawit guna menekan emisi karbon.
GAPKI menyayangkan publikasi artikel yang dinilai tidak seimbang dan tidak berdasar pada fakta yang telah diverifikasi. “Reuters tidak melakukan verifikasi yang cukup terkait klaim-klaim yang mereka buat dalam artikel tersebut. Ini merupakan contoh kampanye hitam terhadap industri kelapa sawit Indonesia yang sering kali diabaikan oleh media asing,” ujar Edi.
BACA JUGA: 10 Finalis Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa 2023-2024 Diumumkan, Siap Hadapi Final di Bali
Dalam pandangannya, industri kelapa sawit Indonesia terus berupaya untuk memenuhi standar keberlanjutan dan berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk menjaga keseimbangan lingkungan sambil memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat. (T2)
