InfoSAWIT, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menegaskan perannya dalam pengembangan riset kelapa sawit melalui dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Program pendanaan ini, yang dikenal dengan skema Grant Riset Sawit (GRS), bertujuan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong inovasi produk kelapa sawit melalui penelitian terapan.
Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany ST PhD, menjelaskan bahwa ITS telah berhasil mempertahankan pendanaan dari BPDPKS sejak dua tahun terakhir. “Tahun ini, ITS kembali mendapatkan pendanaan untuk riset di tiga bidang utama, yakni industri, inovasi, dan infrastruktur,” ujar dosen Departemen Teknik Kimia itu dikutip InfoSAWIT dari laman resmi ITS, Senin (2/12/2024).
Riset yang dikembangkan ITS tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga mendukung pencapaian lima poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu riset unggulan yang mendapatkan pendanaan adalah pengembangan Electric Screw Propeller, sebuah kendaraan angkut tandan buah segar sawit yang dirancang khusus untuk lahan gambut. Riset ini mendukung implementasi SDGs ke-9 tentang infrastruktur, inovasi, dan industrialisasi berkelanjutan. “Kendaraan ini meningkatkan efisiensi transportasi hasil panen di lahan gambut yang biasanya sulit diakses,” tambah Taufany.
BACA JUGA: CPOPC Libatkan Generasi Muda dalam Kampanye Sawit Berkelanjutan Melalui Young Elaeis Ambassadors
Dana yang diperoleh ITS, berlaku mulai November 2024 hingga November 2025, digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan penelitian, seperti pengadaan alat dan bahan riset, serta memastikan kelancaran operasional institusi. “Pendanaan ini menjadi motor penggerak bagi pengembangan riset berkualitas yang mampu memberikan dampak menyeluruh,” jelasnya.
Sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana, ITS juga berfokus pada perlindungan hukum hasil riset melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pengakuan ini memberikan hak eksklusif kepada para peneliti dan mendorong lahirnya inovasi yang lebih luas. “HKI memastikan bahwa hasil riset mendapat pengakuan sekaligus melindungi hak cipta peneliti,” imbuhnya.
Komitmen ITS dalam riset kelapa sawit ini diharapkan dapat menghasilkan karya inovatif yang tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga memperkuat keberlanjutan dan daya saing industri sawit Indonesia di pasar global. “Kami berharap sivitas akademika ITS terus melahirkan inovasi yang berdampak luas,” tutup Taufany.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Anggota Koperasi Tunas Merapi Manunggal Raih Sertifikasi RSPO
Dengan upaya ini, ITS mempertegas posisinya sebagai institusi pendidikan yang berkontribusi aktif dalam mendorong kemajuan sektor perkebunan dan keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia. (T2)
