InfoSAWIT, BOGOR – Sekretaris Jenderal CPOPC, Rizal Affandi Lukman, menegaskan pentingnya menjalin keterlibatan dan dialog yang lebih kuat antara akademisi dan mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia. Hal ini disampaikan dalam seminar bertajuk “Engagement With Academicians and Student Leaders from Higher Institutions of Learning, Indonesia and Malaysia 2024” yang berlangsung di IPB International Convention Center, Bogor, dihadiri InfoSAWIT.
Rizal menjelaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari kegiatan tahunan CPOPC, menyusul acara sukses yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun lalu. Ia berharap seminar ini tidak hanya mempererat hubungan antara sekretariat CPOPC dan akademisi serta mahasiswa, tetapi juga dapat memberikan pandangan serta data yang relevan mengenai kontaminan pangan, khususnya yang terkait dengan minyak kelapa sawit.
“Tujuan kami adalah memberikan bukti ilmiah tentang kontaminan dalam minyak kelapa sawit kepada masyarakat umum,” ungkap Rizal, merujuk pada isu kontaminan seperti monochloropropanediol ester (3-MCPD Ester) dan glycidol esters (GE) yang menjadi tantangan baru bagi industri sawit, terutama di pasar Uni Eropa.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 4-10 Desember 2024 Naik Rp 40,87/Kg
Dalam seminar tersebut, Azmil Haizan Ahmad Tarmizi, pakar dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB), menekankan pentingnya upaya mitigasi untuk mengurangi kontaminasi dalam minyak sawit. Ia menjelaskan bahwa meskipun tidak semua kontaminan menimbulkan risiko kesehatan, penting untuk meminimalkan paparan agar minyak kelapa sawit tetap aman untuk dikonsumsi.
Sementara itu, Tatang Hernas Soerawidjaja dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa Indonesia memiliki teknologi yang cukup maju untuk memproduksi biodiesel B-40 dan B-50. Ia menambahkan bahwa keputusan untuk menerapkan B40 dan B50 lebih didasarkan pada aspek finansial dibandingkan teknologi, mengingat biodiesel masih dianggap lebih mahal daripada solar fosil.
Tatang memprediksi bahwa konsumsi minyak sawit untuk B50 akan mencapai 18 juta metrik ton, meningkat dari 11 juta metrik ton yang digunakan untuk B35 tahun ini. Ia mencatat bahwa konsumsi minyak sawit di Indonesia telah tumbuh rata-rata 7,6 persen per tahun sejak 2019, sementara produksi hanya meningkat kurang dari satu persen per tahun.
BACA JUGA: Regulasi Baru Tata Niaga TBS Sawit, Pekebun Sawit Swadaya Wajib Penuhi Syarat
Dalam upaya menghapus stigma negatif terhadap komoditas sawit, CPOPC juga meluncurkan program Young Elaeis Ambassadors (YEAs) yang menggandeng generasi muda. Program ini ditujukan untuk mereka yang berusia 17-30 tahun, dengan harapan dapat memanfaatkan media sosial sebagai platform untuk menyebarluaskan kampanye mengenai pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Kami sangat berterima kasih atas semangat dan dedikasi dari duta-duta muda ini. Kami akan memperluas program ini karena jika dibiarkan, persepsi negatif tentang kelapa sawit akan tetap ada,” tutup Rizal. (T2)
