InfoSAWIT, JAKARTA – Ada kentang di Malang yang mengandung mikroplastik. Temuan ini diungkap dalam riset mahasiswa Pascasarjana UMM yang tayang di UMM Newspapers Online pada Desember 2023, dan kemudian dilansir ulang oleh beberapa media nasional. Tapi ini baru permukaan. Di 2024, tim periset UMM menggali lebih dalam. Hasilnya mencengangkan, benih kelapa sawit, minyak goreng dari 30 merek, hingga kudapan gorengan di sudut-sudut kota Malang—semuanya tercemar mikroplastik.
Pertanyaannya, apakah mikroplastik ini benar-benar ada di mana-mana? Jawabannya, iya. Mikroplastik adalah polutan yang “ubiquitous” — tak terlihat, tapi hadir di setiap lapisan hidup kita. Bahkan di peternakan: dari susu sapi, susu kambing, hingga telur ayam, semuanya terpapar. Lalu ke tubuh manusia—peneliti telah menemukannya di tinja, air mani, air susu ibu, hingga otak manusia.
Indonesia, menurut Reza Cordova dari BRIN, adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Penelitian terbaru oleh Zhao & You (2024) dari Cornell University menunjukkan, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 15 gram mikroplastik per bulan. Ini jauh lebih tinggi dari orang Amerika yang “hanya” 2,4 gram per bulan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II-Mei 2025 Melorot Rp143,54 per Kg
UNEP, badan lingkungan PBB, menempatkan mikroplastik sebagai ancaman nomor dua terhadap manusia, setelah efek rumah kaca. Mengapa? Karena sifatnya yang merusak perlahan dan berdampak jangka panjang. Mikroplastik menghambat upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan kesehatan, air bersih, produksi berkelanjutan, dan ekosistem.
Namun, kabar baik datang dari riset translasi yang dilakukan tim UMM. Mereka menguji paparan mikroplastik pada 15 ekor tikus putih dan memberikan suplemen minyak sawit merah (VPO) dari tiga merek komersial Indonesia. Hasilnya luar biasa, tikus yang diberi VPO lebih sehat secara histopatologi dan biokimia dibanding tikus kontrol. Bahkan kandungan mikroplastik dalam darah dan organ vital seperti hati, ginjal, dan pankreas lebih rendah. Temuan mengejutkan muncul, dalam 1 mL darah tikus, ditemukan 161 jenis resin mikroplastik.
Menurut Dr. Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), riset ini adalah yang pertama di dunia yang menunjukkan efek perlindungan VPO terhadap mikroplastik. Sebuah potensi besar, mengingat Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia.
BACA JUGA: KUD Tani Subur Hadirkan Manfaat Nyata dari Sawit Berkelanjutan bagi Petani dan Masyarakat
Lalu, pertanyaan penutup yang patut kita renungkan, di mana pabrik-pabrik minyak makan merah (M3) yang dulu dibanggakan, bahkan diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi dan peletakan batu pertamanya oleh Menteri Teten Masduki? Apakah mereka sudah mulai memproduksi secara masif untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis Prabowo-Gibran?
Saat dunia tercekik oleh polusi plastik, Indonesia justru punya senjata alami, minyak makan merah. Tinggal kemauan kita—mau diam saja, atau bergerak cepat. Sebelum semuanya terlambat.
Oleh: Roy Hendroko Setyobudi, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT
